Sabtu, 30 April 2011

KDRT

PERANAN FORENSIK KLINIK DALAM KASUS KEKERASAN TERHADAP ANAK dan PEREMPUAN

AUTHORS : Yayan Akhyar Israr, S.Ked, Yance Warman, S.Ked, Rizki Kurniati, S.Ked, Apriani Dewi, S.Ked. Fakultas Kedokteran Universitas Riau.

PENDAHULUAN

image Interaksi antara bidang medis dan hukum pada saat ini tidak dapat diragukan lagi, yang mana semakin meluas dan berkembang dari waktu ke waktu.
Di sinilah peranan forensik klinis yang merupakan suatu ruang lingkup keilmuan yang berintegrasi antara bidang medis dan bidang hukum diperlukan.
Berbeda dengan forensik patologi, seorang dokter di forensik klinik lebih banyak menghabiskan waktunya menangani korban hidup.1,2 Kasus-kasus yang ada di forensik klinik meliputi perkosaan (rape), pencabulan (molestation), kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence), dan kekerasan pada anak (child abuse).3
—-Kekerasan pada anak (child abuse) merupakan perlakuan dari orang dewasa atau anak yang usianya lebih tua dengan menggunakan kekuasaan atau otoritasnya, terhadap anak yang tidak berdaya yang seharusnya berada di bawah tanggung-jawab dan atau pengasuhnya, yang dapat menimbulkan penderitaan, kesengsaraan, bahkan cacat. Penganiayaan bisa fisik, seksual maupun emosional.4 Pada tahun 1998, di Amerika Serikat lebih kurang 1100 anak meninggal dengan rata-rata 3 anak meninggal per hari dari 2,8 juta kasus kekerasan pada anak yang dilaporkan di agensi perlindungan (child protective agencies) anak pada tahun tersebut.5 Berdasarkan bentuk kekerasannya, terjadi 53,5% kasus penelantaran, 22,7% kasus kekerasan fisik, 11,5% kasus kekerasan seksual, 6% kasus kekerasan emosi, dan 6 % kasus penelantaran medis.6
—-Kekerasan pada wanita adalah segala bentuk kekerasan berbasis jender yang berakibat atau mungkin berakibat, menyakiti secara fisik, seksual, mental atau penderitaan terhadap wanita, termasuk ancaman dari tindakan tersebut, pemaksaan atau perampasan semena-mena kebebasan, baik yang terjadi dilingkungan masyarakat maupun dalam kehidupan pribadi.4 Seringkali kekerasan pada perempuan terjadi karena adanya ketimpangan atau ketidakadilan jender. Ketimpangan jender adalah perbedaan peran dan hak perempuan dan laki-laki di masyarakat yang menempatkan perempuan dalam status lebih rendah dari laki-laki. “Hak istimewa” yang dimiliki laki-laki ini seolah-olah menjadikan perempuan sebagai “barang” milik laki-laki yang berhak untuk diperlakukan semena-mena, termasuk dengan cara kekerasan.7
—-Di Indonesia, tindak kekerasan terhadap perempuan sampai saat ini belum cukup mendapat perhatian dari institusi terkait, seperti kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan. Meski perempuan rentan dan rawan terhadap tindak kekerasan, upaya penyusunan peraturan perundang-undangan untuk melindungi perempuan sering terbentur pada keterbatasan data kuantitatif dan kualitatif pendukung.8

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Forensik Klinik

—-Forensik Klinik adalah bagian dari ilmu kedokteran forensik yang mencakup pemeriksaan forensik terhadap korban hidup dan investigasinya, kemudian aspek medikolegal, juga psikopatologinya, dengan kata lain forensik klinik merupakan area praktek medis yang mengintegrasikan antara peranan medis dan hukum.3
—-Secara internasional, organisasi forensik klinik dapat dibagi menjadi 3 resimen inti. Regimen pertama di UK dan Australia, kedokteran forensik klinik dijalankan oleh kelompok dokter yang bukan merupakan patologis forensik. Kebanyakan dari mereka adalah praktisi umum. Dahulu mereka dikenal sebagai police surgeon, namun sekarang mereka juga dikenal dengan nama forensic medical examiners (FME’s). Regimen kedua ada di bagian Eropa, dimana dokter di institute of legal medicine menggambil peranan tersebut, biasanya mereka juga merupakan ahli forensik patologi. Regimen ketiga adalah Amerika serikat, dimana tidak mudah untuk menentukan mana kelompok dokter yang mempberikan pelayanan forensik klinik. Yang paling dekat yang dapat ditemukan adalah dokter-dokter yang bekerja di ruangan emergensi. Pada akhir tahun 80-an, peranan ini secara berangsur-angsur diambil alih oleh perawat forensik.2
—-Secara teori forensik klinik berkaitan dengan berbagai begitu banyak aspek, namun umumnya forensik klinik terlibat dalam hal-hal sebagai berikut :9
  1. Pengobatan/perawatan terhadap seseorang yang memiliki keterbatasan
  2. Pemeriksaan medis dan penilaian korban dan pelaku tindakan kejahatan
  3. Pemeriksaan medis dan terhadap penilaian pengendara yang mengendarai kendaraan bawah pengaruh alkohol dan atau obat-obatan.
  4. Pemeriksaan medis dan penilaian terhadap pengendara mengenai deklarasi dari pelaku untuk mengakui kelayakaan untuk mengemudi
  5. Pemeriksaan medis dan penilaian korban penganiayaan.
  6. Pemeriksaan medis dan penilaian kompensasi terhadap pekerja oleh pekerjaannya.
  7. Pemeriksaan medis dan penilaian kesehatan mental untuk kepentingan hukum dan peradilan.

2.2 Kekerasan Pada Anak (Child Abuse)

image —-Secara umum kekerasan didefinisikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan satu individu terhadap individu lain yang mengakibatkan gangguan fisik dan atau mental.
—-Anak ialah individu yang belum mencapai usia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan seperti tertera dalam pasal 1 UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Kekerasan pada anak adalah tindakan yang di lakukan seseorang atau individu pada mereka yang belum genap berusia 18 tahun yang menyebabkan kondisi fisik dan atau mentalnya terganggu.
—-Kekerasan pada anak atau perlakuan salah pada anak adalah suatu tindakan semena-mena yang dilakukan oleh seseorang yang seharusnya menjaga dan melindungi anak (caretaker) pada seorang anak baik secara fisik, seksual, maupun emosi. Pelaku kekerasan di sini karena bertindak sebagai caretaker, maka mereka umumnya merupakan orang terdekat di sekitar anak. Ibu dan bapak kandung, ibu dan bapak tiri, kakek, nenek, paman, supir pribadi, guru, tukang ojek pengantar ke sekolah, tukang kebun, dan seterusnya.10
—-Seringkali istilah kekerasan pada anak ini dikaitkan dalam arti sempit dengan tidak terpenuhinya hak anak untuk mendapat perlindungan dari tindak kekerasan dan eksploitasi. Kekerasan pada anak juga sering kali dihubungkan dengan lapis pertama dan kedua pemberi atau penanggung jawab pemenuhan hak anak yaitu orang tua (ayah dan ibu) dan keluarga. Kekerasan yang disebut terakhir ini di kenal dengan perlakuan salah terhadap anak atau child abuse yang merupakan bagian dari kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence).10,11
—-Menurut WHO (World Health Organization) kekerasan dan penelantaran pada anak merupakan semua bentuk perlakuan menyakitkan secara fisik ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, penelantaran, eksploitasi komersial atau eksploitasi lain, yang mengakibatkan cedera atau kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak, atau martabat anak, yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggung jawab, kepercayaan atau kekuasaan.
Banyak teori yang berusaha menerangkan bagaimana kekerasan ini terjadi, salah satu di antaranya teori yang behubungan dengan stress dalam keluarga (family stress). Stres dalam keluarga tersebut bisa berasal dari anak, orang tua, atau situasi tertentu. 12
  1. Stres berasal dari anak misalnya anak dengan kondisi fisik, mental, dan perilaku yang terlihat berbeda dengan anak pada umumnya. Bayi dan usia balita, serta anak dengan penyakit kronis atau menahun juga merupakan salah satu penyebab stres.
  2. Stres yang berasal dari orang tua misalnya orang tua dengan gangguan jiwa (psikosis atau neurosa), orang tua sebagai korban kekerasan di masa lalu, orang tua terlampau perfek dengan harapan pada anak terlampau tinggi, orang tua yang terbiasa dengan sikap disiplin.
  3. Stres berasal dari situasi tertentu misalnya terkena PHK (pemutusan hubungan kerja) atau pengangguran, pindah lingkungan, dan keluarga sering bertengkar.
—-Dengan adanya stres dalam keluarga dan faktor sosial budaya yang kental dengan ketidaksetaraan dalam hak dan kesempatan, sikap permisif terhadap hukuman badan sebagai bagian dari mendidik anak, maka para pelaku makin merasa sah untuk menyiksa anak. Dengan sedikit faktor pemicu, biasanya berkaitan dengan tangisan tanpa henti dan ketidakpatuhan pada pelaku, terjadilah penganiayaan pada anak yang tidak jarang membawa malapetaka bagi anak dan keluarganya.12
—-Perlukaan bisa berupa cedera kepala (head injury), patah tulang kepala, geger otak, atau perdarahan otak. Perlukaan pada badan, anggota gerak dan alat kelamin, mulai dari luka lecet, luka robek, perdarahan atau lebam, luka bakar, patah tulang. Perlukaan organ dalam (visceral injury) tidak dapat dideteksi dari luar sehingga perlu dilakukan pemeriksaan dalam dengan melakukan otopsi. Perlukaan pada permukaan badan seringkali memberikan bentuk yang khas menyerupai benda yang digunakan untuk itu, seperti bekas cubitan, gigitan, sapu lidi, setrika, atau sundutan rokok. Karena perlakuan seperti ini biasanya berulang maka perlukaan yang ditemukan seringkali berganda dengan umur luka yang berbeda-beda, ada yang masih baru ada pula yang hampir menyembuh atau sudah meninggalkan bekas (sikatriks). Di samping itu lokasi perlukaan dijumpai pada tempat yang tidak umum sepertihalnya luka-luka akibat jatuh atau kecelakaan biasa seperti bagian paha atau lengan atas sebelah dalam, punggung, telinga, langit langit rongga mulut, dan tempat tidak umum lainnya.2,12
—-Saat perlakuan salah pada anak terjadi, lantaran perbuatan itu, pelaku tidak sadar bahkan mungkin tidak tahu bahwa tindakannya itu akan diancam dengan pidana senjata atau denda yang tidak sedikit, bahkan jika pelaku ialah orang tuanya sendiri maka hukuman akan ditambah sepertiganya yakni pada pasal 80 Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, sebagai berikut :
1. Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp. 72.000.000.00.
2. Dalam hal anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 100.000.000.00.
3. Dalam hal anak yang dimaksud ayat 2 mati, maka pelaku dipidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda paling banyak RP. 200.000.000.004. Pidana dapat ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya).10
Undang-undang no 23/2002 Perlindungan Anak10


Pasal Tindakan Hukuman
77 Diskriminasi Penelantaran Anak 5 tahun, 100 juta
78 Sengaja anak dalam situasi darurat 5 tahun, 100 juta
80 Kekerasan terhadap anak,
luka berat,
mati
3,5 tahun, denda 72 juta
5 tahun, 100 juta
10 tahun, 200 juta
83 Menjual, menculik 3-15 tahun, 60-300 juta
88 Eksploitasi ekonomi/seksual 10 tahun, 200 juta

Bentuk Kekerasan pada Anak
—- Terdapat lima bentuk kekerasan pada anak (1999 WHO Consultation on child abuse prevention) yaitu :13
1. Kekerasan fisik (physical abuse)
Merupakan kekerasan yang mengakibatkan cedera fisik nyata ataupun potensial terhadap anak, sebagai akibat dari interaksi atau tidak adanya interaksi, yang layaknya berada dalam kendali orang tua atau orang dalam posisi hubungan tanggung jawab, kepercayaan atau kekuasaan. Bentuk kekerasan yang sifatnya bukan kecelakaan yang membuat anak terluka.
Contoh: menendang, menjambak (menarik rambut), menggigit, membakar, menampar.
2. Kekerasan seksual (sexual abuse)
Merupakan pelibatan anak dalam kegiatan seksual dimana ia sendiri tidak sepenuhnya memahami, tidak mampu memberikan persetujuan atau oleh karena perkembangannya belum siap atau tidak dapat memberi persetujuan, atau yang melanggar hukum atau pantangan masyarakat, atau merupakan segala tingkah laku seksual yang dilakukan antara anak dan orang dewasa.
Contoh, pelacuran anak-anak, intercourse, pornografi, eksibionisme, oral sex, dan lain-lain.
3. Mengabaikan(Neglect)
Merupakan kegagalan dalam menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya, seperti kesehatan, perkembangan emosional, nutrisi, rumah atau tempat bernaung dan keadaan hidup yang aman di dalam konteks sumber daya yang layaknya dimiliki oleh keluarga atau pengasuh, yang mengakibatkan atau sangat mungkin mengakibatkan gangguan kesehatan atau gangguan perkembangan fisik, mental, moral dan sosial, termasuk didalamnya kegagalan dalam mengawasi dan melindungi secara layak dari bahaya gangguan.
4. Kekerasan emosi (Emotional Abuse)
Merupakan kegagalan penyediaan lingkungan yang mendukung dan memadai bagi perkembangannya, termasuk ketersediaan seorang yang dapat dijadikan figur primer sehingga anak dapat berkembang secara stabil dengan pencapaian kemampuan sosial dan emosional yang diharapkan sesuai dengan potensi pribadina dalam konteks lingkungannya. Segala tingkah laku atau sikap yang mengganggu kesehatan mental anak atau perkembangan sosialnya.
Contoh : tidak pernah memberikan pujian/ reinforcemen yang positif, membandingkannya dengan anak yang lain, tidak pernah memberikan pelukan atau mengucapkan” aku sayang kamu”.
5. Eksploitasi anak (child exploitation)
Merupakan penggunaan anak dalam pekerjaan atau aktivitas lain untuk keuntungan orang lain. Dampak dari tindak kekerasan terhadap anak yang paling dirasakan yaitu pengalaman traumatis yang susah dihilangkan pada diri anak, yang berlanjut pada permasalahan-permasalahan lain, baik fisik, psikologis maupun sosial.
Stigma yang melekat pada korban :13
1. Stigma Interna
  • Kecenderungan korban menyalahkan diri.
  • Menutup diri.
  • Menghukum diri.
  • Menganggap dirinya aib
2. Stigma Eksternal
  • Kecenderungan masyarakat menyalahkan korban.
  • Media informasi tanpa empati memberitakan kasus yang dialami korban secar terbuka dan tidak menghiraukan hak privasi korban.
Faktor-faktor kausalitas yang signifikan :14
  1. Masalah kemiskinan
  2. Masalah gangguan hubungan sosial keluarga dan komunitas
  3. Penyimpangan perilaku dikarenakan masalah psikososial
  4. Lemahnya kontrol sosial primer masyarakat dan hukum
  5. Pengaruh nilai sosial budaya di lingkungan sosial tertentu
  6. Keengganan masyarakat untuk melaporkan kasus-kasus
—-Kompleksitas faktor-faktor penyebab dan beban permasalahan yang demikian berat dalam diri para korban tindak kekerasan, menuntut diambilnya langkah penanganan yang holistik dan komprehensif melalui pendekatan interdisipliner, interinstitusional dan intersektoral dengan dukungan optimal dari berbagai sumber dan potensi dalam masyarakat.14

2.3 Kekerasan Terhadap Perempuan (Woman Abuse)

—-image Kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan banyak terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Pada tahun 2000, Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan mencatat tingkat kekerasan yang dialami perempuan Indonesia sangat tinggi. Sekitar 24 juta perempuan atau 11,4 persen dari total penduduk Indonesia pernah mengalami tindak kekerasan.
—-Diperkirakan angka-angka yang tercatat di LSM, kantor polisi dan media massa tidak mencerminkan keadaan yang sesungguhnya, mengingat seperti masalah perkosaan masih dianggap tabu. Selain itu hukum negara kita yang mengatur hal tersebut secara khusus dan rinci juga belum maksimal. Selama ini pelaku hanya bisa dijerat dengan beberapa pasal dalam KUHP, yaitu kasus persetubuhan diluar perkawinan yang merupakan kejahatan seksual yang diatur dalam pasal 284, 285, 286, dan 287 KUHP dan kasus persetubuhan dalam perkawinan yang dianggap sebagai kejahatan diatur dalam KUHP pasal 288. Sebagai dokter tentunya kita harus mengetahui hal-hal apa saja yang berhubungan dengan kasus perkosaan, baik dari segi hukum maupun segi medis, sehingga keterangan yang dibuat oleh dokter dapat memiliki kekuatan hukum dan berguna di peradilan.15
—-
Bentuk Kekerasan pada Perempuan
—-Bentuk kekerasan yang sering terjadi pada perempuan berupa perlukaan akibat kekerasan fisik dan kekerasan seksual. Khusus kasus kekerasan seksual bentuk perkosaan, sebuah LSM perempuan mencatat bahwa setiap lima jam terjadi satu kasus perkosaan di Indonesia.15 Kekerasan perempuan dapat terjadi dalam bentuk :7
1. Tindak kekerasan fisik
Tindak kekerasan fisik adalah tindakan yang bertujuan melukai, menyiksa atau menganiaya orang lain. Tindakan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan anggota tubuh pelaku (tangan, kaki) atau dengan alat-alat lainnya
2. Tindak kekerasan non-fisik
Tindak kekerasan non-fisik adalah tindakan yang bertujuan merendahkan citra atau kepercayaan diri seorang perempuan, baik melalui kata-kata maupun melalui perbuatan yang tidak disukai/dikehendaki korbannya.
3. Tindak kekerasan psikologis atau jiwa
Tindak kekerasan psikologis/ jiwa adalah tindakan yang bertujuan mengganggu atau menekan emosi korban. Secara kejiwaan, korban menjadi tidak berani mengungkapkan pendapat, menjadi penurut, menjadi selalu bergantung pada suami atau orang lain dalam segala hal (termasuk keuangan). Akibatnya korban menjadi sasaran dan selalu dalam keadaan tertekan atau bahkan takut.

A. Pelecehan Seksual
Pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diinginkan oleh orang yang menjadi sasaran. Pelecehan seksual bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, seperti di tempat kerja, di kampus/sekolah, di pesta, tempat rapat, dll.
Pelaku pelecehan seksual bisa teman, pacar, atasan di tempat kerja, dokter, dukun, dan lain-lain. Akibat pelecehan seksual, korban merasa malu, marah, terhina, tersinggung, benci kepada pelaku, dendam kepada pelaku, shok/trauma berat, dan lain-lain.7
B. Perkosaan
Pengertian perkosaan di Indonesia mengacu pada pasal 285 KUHP, yang berarti adalah suatu kejahatan seksual yang ditandai dengan adanya persetubuhan yang dilakukan oleh laki-laki terhadap wanita yang bukan merupakan istri dari pelaku, disertai dengan pemaksaan yang berupa kekerasan atau ancaman akan kekerasan.15 Berdasarkan pelakunya, perkosaan bisa dilakukan oleh :7
  • Orang yang dikenal: teman, tetangga, pacar, suami, atau anggota keluarga (bapak, paman, saudara).
  • Orang yang tidak dikenal, biasanya disertai dengan tindak kejahatan, seperti perampokan, pencurian, penganiayaan, atau pembunuhan.
—-Tindakan perkosaan membawa dampak emosional dan fisik kepada korbannya. Secara emosional, korban perkosaan bisa mengalami stress, depresi, goncangan jiwa, menyalahkan diri sendiri, rasa takut berhubungan intim dengan lawan jenis, dan kehamilan yang tidak diinginkan. Secara fisik, korban mengalami penurunan nafsu makan, sulit tidur, sakit kepala, tidak nyaman di sekitar vagina, berisiko tertular PMS, luka di tubuh akibat perkosaan dengan kekerasan, dan lainnya.
—-Pemeriksaan terhadap kasus yang diduga perkosaan bertujuan untuk membuktikan ada tidaknya tanda-tanda persetubuhan, ada tidaknya tanda-tanda kekerasan, perkiraan umur serta pembuktian apakah seseorang sudah pantas atau sudah mampu untuk dikawini atau tidak. Sebelum membahas tentang kejahatan seksual lebih lanjut, ada beberapa hal yang harus dipahami yang berkaitan dengan senggama atau persetubuhan (koitus).
C. Kekerasan Dalam Rumah Tangga
—-Kekerasan dalam rumah tangga merupakan kekerasan yang terjadi dalam lingkungan rumah tangga. Pada umumnya, pelaku kekerasan dalam rumah tangga adalah suami, dan korbannya adalah istri dan/atau anak-anaknya. Kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi dalam bentuk kekerasan fisik, kekerasan psikologis/emosional, kekerasan seksual, dan kekerasan ekonomi.7
—-Secara fisik, kekerasan dalam rumah tangga mencakup: menampar, memukul, menjambak rambut, menendang, menyundut dengan rokok, melukai dengan senjata, dan sebagainya. Secara psikologis, kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga termasuk penghinaan, komentar-komentar yang merendahkan, melarang istri mengunjungi saudara maupun teman-temannya, mengancam akan dikembalikan ke rumah orang tuanya, dan lain-lain. Secara seksual, kekerasan dapat terjadi dalam bentuk pemaksaan dan penuntutan hubungan seksual. Secara ekonomi, kekerasan terjadi berupa tidak memberi nafkah istri, melarang istri bekerja atau membiarkan istri bekerja untuk dieksploitasi.
—-Korban kekerasan dalam rumah tangga biasanya enggan/ tidak melaporkan kejadian karena menganggap hal tersebut biasa terjadi dalam rumah tangga atau tidak tahu kemana harus melapor.7

2.4 Peranan Forensik Klinik dalam Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan

—-Para dokter yang diberikan dihadapkan untuk memberikan penilaian terhadap kasus-kasus yang dicurigai merupakan kasus child abuse haruslah mempunyai keterampilan dasar. Keterampilan dasar yang harus dimiliki tersebut adalah :9
  1. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik kepada anak-anak dan pengasuh mereka mengenai hal ini yang mungkin sangat sensitif bagi mereka.
  2. Mau mengerti dan sensitif dengan mempertimbangkan perkembangan anak, keburuhan sosial dan emosional dan tingkat kemampuan intelektual anak.
  3. Mengerti mengenai persetujuan dan kerahasiaan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan anak tersebut.
  4. Kompetensi untuk melakukan pemeriksaan fisik umum dan genitalia secara keseluruhan pada anak dan berbagai keahlian untuk dapat memfasilitasi pemeriksaan genitalia.
  5. Pemahaman mengenai genitalia normal dan anatomi anus, dan variannya berbadasarkan usia dan jenis kelamin anak yang diperiksa
  6. Pemahaman mengenai diagnosis dan diferensial diagnosis dari tanda-tanda fisik.
  7. Mampu menggunakan kolposkopi dan memperoleh dokumentasi gambar untuk meyakinkan mengenai temuan dari pemeriksaan klinis sebelumnya dan mendokumentasikannya kalau pun hasilnya tidak seusai.
  8. Mengetahui sampel apa yang harus diperoleh untuk kepentingan investigasi, bagaimana cara memperolehnya, dan bagai mana cara menyimpan serta pemindahannya.
  9. Mempunyai kemampuan mendokumentasikan temuan klinis secara menyeluruh dan tepat pada sebuah buku catatan mereka.
  10. Mempunyai kemampuan untuk memberikan pernyataan secara detail/ melaporkan temuan dan menginterpretasikan temuan klinis.
  11. Kemauan untuk berkomunikasi dan bekerjasama dengan agensi dan profesional lain yang terlibat dalam perawatan anak (korban).
  12. Ketepatan untuk menghadirkan bukti dan melakukan uji silang, berkaitan dengan proses sipil dan kriminal
  13. Kemampuan untuk mendiskusikan keadaan dan temuan dalam konteks tingkat perkembangan anak dan literatur medis yang relevan.
—-Sebagai tambahan, ada beberapa keterampilan yang bergantung pada kasus kadang dibutuhkan, keterampilan tersebut antara lain:9
  1. Pemahaman mengenai jenis-jenis kontrasepsi post-koital yang tersedia serta indikasi dan kontraindikasi banyak metoda.
  2. Pelatihan untuk pencegahan (termasuk hepatitis B, HIV), skrining dan diagnosis penyakit menular seksual
—-

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Pemeriksaan13

1. Memiliki permintaan tertulis dari penyidik
—-Untuk dapat melakukan pemeriksaan yang berguna untuk peradilan, dokter harus melakukannya berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik yang berwenang. Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti. Apabila korban datang sendiri dengan membawa surat permintaan dari polisi, korban jangan diperiksa dahulu tetapi diminta untuk kembali kepada polisi dan datang bersama polisi.
—-Visum et Repertum dibuat hanya berdasarkan atas keadaan yang didapatkan pada tubuh korban pada saat permintaan Visum et Repertum diterima oleh dokter. Jika dokter telah memeriksa korban yang datang di rumah sakit, atau di tempat praktek atas inisiatif korban sendiri tanpa permintaan polisi, lalu beberapa waktu kemudian polisi mengajukan permintaan untuk dibuatkan Visum et Repertum, maka hasil pemeriksaan sebelumnya tidak boleh dicantumkan dalam Visum et Repertum karena segala sesuatu yang diketahui dokter tentang diri korban sebelum ada pemintaan untuk dibuatkan Visum et Repertum merupakan rahasia kedokteran yang wajib disimpannya (KUHP pasal 322).10
—-Dalam hal demikian, korban harus dibawa kembali untuk diperiksa dan Visum et Repertum dibuat berdasarkan keadaan yang ditemukan pada waktu permintaan diajukan. Hasil pemeriksaan yang lalu tidak dicantumkan dalam bentuk Visum et Repertum, tetapi dalam bentuk surat keterangan.
2. Informed Consent
—-Sebelum memeriksa, dokter harus mendapatkan surat ijin terlebih dahulu dari pihak korban, karena meskipun sudah ada surat permintaan dari polisi, belum tentu korban menyetujui dilakukannya pemeriksaan atas dirinya. Selain itu, bagian yang akan diperiksa meliputi daerah yang bersifat pribadi. Jika korban sudah dewasa dan tidak ada gangguan jiwa, maka dia berhak memberi persetujuan, saudaranya atau pihak keluarga tidak berhak memberikan persetujuan. Sedangkan jika korban anak kecil dan jiwanya terganggu, maka persetujuan diberikan oleh orang tuanya atau saudara terdekatnya, atau walinya.
—-Dalam melakukan pemeriksaan, tempat yang digunakan sebaiknya tenang dan dapat memberikan rasa nyaman bagi korban. Oleh karena itu, perlu dibatasi jumlah orang yang berada dalam kamar pemeriksaan, hanya dokter, perawat, korban, dan keluarga atau teman korban apabila korban menghendakinya. Pada saat memeriksa, dokter harus didampingi oleh seorang perawat atau bidan.
3. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secepat mungkin
—-Korban sebaiknya tidak dibiarkan menunggu dengan perasaan was-was dan cemas di kamar periksa. Pemeriksa harus menjelaskan terlebih dahulu tindakan-tindakan yang akan dilakukan pada korban dan hasil pemeriksaan akan disampaikan ke pengadilan.Visum et Repertum diselesaikan secepat mungkin agar perkara dapat cepat diselesaikan.
—-

2.4.1 Kekerasan Fisik

—-Pemeriksaan fisik yang mungkin dapat dilakukan oada korban yang di duga mendapatkan kan kekerasan fisik antara lain :4
1. Ambil data-data Polisi, korban dokter dan perawat terkait.
2. Anamnesis :
  • Umur.
  • Urutan kejadiaan.
  • Jenis penderaan.
  • Oleh siapa, kapan, dimana, dengan apa, berapa kali.
  • Akibat pada anak.
  • Orang yang ada disekitar.
  • Waktu jeda antara kejadian dan kedatangan ke RS.
  • Kesehatan sebelumnya.
  • Trauma serupa waktu lampau.
  • Riwayat penakit lampau.
  • Pertumbuhan fisik dan psikis.
  • Siapa yang mengawasi sehari-hari.
3. Pemeriksaan fisik :
  • Gizi, higiene, tumbuh kembang anak.
  • Keadaan umum, fungsi vital.
  • Keadaan fisik umum.
  • Daftar dan plot pada diagram topografi jenis luka yang ada.
  • Perhatikan daerah luka terselubung : mata, telinga,mulut dan kelamin.
  • Kasus berat bisa dipotret.
  • Raba dan periksa semua tulang.

2.4.2 Kekerasan Seksual

—-Pemeriksaan secara medis pada korban kejahatan seksual, baik pada anak-anak maupun dewasa pada dasarnya sama dengan pada pasien lain, yaitu anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang :4
1. Ambil data-data Polisi, korban dokter dan perawat terkait.
2. Anamnesis :
  • Umur.
  • Status perkawinan.
  • Haid : siklus, terakhir.
  • Penyakit kelamin dan kandungan.
  • Penyakit lain seperti ayan dll.
  • Pernah bersetubuh? Waktu persetubuhan terakhir? Menggunakan kondom ?
  • Waktu kejadian.
  • Tempat kejadian.
  • Apakah korban melawan ?
  • Apakah korban pingsan ?
  • Apakah terjadi penetrasi
  • Apakah terjadi ejakulasi ?
3. Periksa pakaian :
  • Robekan lama / baru / memanjang / melintang ?
  • Kancing putus.
  • Bercak darah, sperma, lumpur dll.
  • Pakaian dalam rapih atau tidak ?
  • Benda-benda yang menempel sebagai trace evidence.
4. Pemeriksaan badan :
Umum :
  • Rambut / wajah rapi atau kusut.
  • Emosi tenang atau gelisah.
  • Tanda bekas pingsan, alkohol, narkotik. Ambil contoh darah.
  • Tanda kekerasan : Mulut, leher, pergelangan tangan, lengan, paha
  • Trace evidence yang menempel pada tubuh.
  • Perkembangan seks sekunder.
  • Tinggi dan berat badan.
  • Pemeriksaan rutin lainnya.
Genitalia :
—-Pada pemeriksaan fisik anak, temuan tidak spesifik yaitu temuan yang mungkin sebagai akibat dari seksual abuse, tergantung pada jarak saat pemeriksaan dan saat abuse, tetapi mungkin juga akibat sebab lain atau merupakan varian yang normal
  • Eritema (kemerahan) vestibulum atau jaringan sekitar anus(dapat akibat zat iritan, infeksi atau iritan)
  • Adesi labia ( mungkin akibat iritasi atau rabaan)
  • Friabilitas (retak) daerah posterior fourchette (akibat iritasi, infeksi atau karena traksi labia mayor pada pemeriksaan)
  • Penebalan selaput dara (mungkin akibat estrogen, terlipatnya tepi selaput, bengkak karena infeksi ataun trauma)
  • Kulit genital semu (mungkin jumbai kulit atau kulit bukan genital mungkin condyloma acuminata yang didapat bukan dari seksual)
  • Fisura ani (biasanya akibat konstipasi atau iritasi perianal)
  • Pendataran lipat anus (akibat relaksasi sfingter eksterna)
  • Pelebaran anus dengan adanya tinja (refleks normal)
  • Kongesti vena atau pooling vena (biasanya akibat posisi anak, juga ditemuka pada konstipasi)
  • Perdarahan pervaginam (mungkin berasal dari sumber lain, seperti uretra, atau mungkin akibat infeksi vagina, benda asing atau trauma yang aksidental

Dugaan kekerasan seksual (suggestive of sexual abuse) :1
—-Temuan pada anak yang telah memiliki riwayat abuse, mungkin ada abuse, tetapi tidak cukup data yang menunujukkan bahwa abuse adalah satu-satunya penyebab.
Riwayat sangat krusial dalam menentukan makna keseluruhannya :
· Pelebaran anus (notch atau cleft) selaput dara di daerah posterior, mencapai dekat dasar (sering merupakan artefak pada posisi pemeriksaan tertentu, tetapi bila konsisten pada beberapa posisi, maka mungkin akibat kekerasan tumpul atau penetrasi sebelumnya)
  • Lecet akut, laserasi atau memar labia, jaringan sekitar selaput dara atau perineum (mungkin akibat trauma aksidental, keadaan dermatologis seperti lichen sclerosus atau hemangioma)
  • Jejak gigitan atau hisapan di genitalia atau paha bagian dalam
  • Jaringan parut atau laserasi baru daerah posterior fourchette tanpa mengenai selaput dara( dapat akibat trauma aksidental)
  • Jaringan parut perianal (jarang, mungkin akibat keadaan medis lain seperti chron’s disease atau akibat tindakan medis sebelumnya)
Pemeriksaan ekstra genital
  • Pemeriksaan terhadap pakaian dan benda-benda yang melekat pada tubuh
  • Deskripsikan luka
  • Pemeriksaan rongga mulut pada kasus oral sex
  • Scrapping pada kulit yang memiliki noda sperma
  • Pemeriksaan kuku jari korban untuk mencari material dari tubuh pelaku
  • Pemeriksaan anal
5. Deskripsikan mengenai adanya robekan, iregularitas, keadaan fissura. Apabila terjadi hubungan seksual secara anal, maka dapat terjadi perlukaan pada anus.
6. Pemeriksaan laboratorium yang direkomendasikan seperti :
  • Pemeriksaan darah
  • Pemeriksaan cairan mani (semen)
  • Pemeriksaan kehamilan
  • Pemeriksaan VDRL
  • Pemerikaan serologis Hepatitis
  • Pemeriksaan Gonorrhea
  • Pemeriksaan HIV
  • Pemeriksaan rambut, air liur, dan pemeriksaan pria tersangka.
—-

2.4.3 Penelantaran/ mengabaikan (Neglected)

—-Seorang anak yang ditelantarkan bisa mengalami kekurangan gizi (malnutrisi), lemas atau kotor atau pakaiannya tidak layak. Pada kasus yang berat, anak mungkin tinggal seorang diri atau dengan saudara kandungnya tanpa pengawasan dari orang dewasa. Anak yang ditelantarkan bisa meninggal akibat kelaparan. Seorang anak yang ditelantarkan atau dianiaya mungkin perlu dirawat di rumah sakit. Dilakukan penanganan tertentu sesuai dengan keadaan anak.16

2.4.4 Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Domestic Violent)

—-Pemeriksaannya serupa dengan kekerasan anak dan seksual. Visum et repertum Harus tertulis dan diantarkan oleh polisi.7
  1. Visum et repertum dibuat bila korban setelah diperiksa diperbolehkan pulang dan dapat bekerja seperti biasa serta tidak ada halangan untuk melakukan pekerjaan.
  2. Visum sementara dibuat setelah pemeriksaan ternyata korban membutuhkan perawatan dan mendapat gangguan untuk melakukan pekerjaan. Tidak dibuat kualifikasi luka. Kegunaan bagi penyidik untuk menahan tersangka.
  3. Visum et repertum lanjutan dibuat setelah korban selesai menjalani pengobatan, pindah rumah-sakit / dokter, pulang paksa atau meninggal.
Luka Berat :
  1. Penyakit atau luka yang tidak boleh diharap akan sembuh lagi dengan sempurna atau dapat mendatangkan bahaya maut.
  2. Terus menerus tidak cakap lagi melakukan jabatan atau pekerjaan.
  3. Tidak lagi memakai (kehilangan) salah satu panca indera secara lengkap.
  4. Kudung (rompong, buntung), cacat sehingga jelek rupanya karena ada suatu anggota badan yang putus, misalnya hidung, telinga, jari tangan.
  5. Lumpuh, artinya tidak bisa menggerakkan anggota badan.
  6. Berubah pikiran lebih dari 4 minggu.
  7. Menggugurkan atau membunuh bakal anak kandungan ibu.7

DAFTAR PUSTAKA
  1. Stark MM. Medical Forensic Medicine A Physician’s Guide. 2nd Edition. New Jersey : Humana Press Inc. 2005.
  2. Philip SL. Clinical Forensic Medicine : Much Scope for Development in Hong Kong. Hongkong : Department of Pathology Faculty of Medicine University of Hong Kong. 2007.
  3. Webmaster. Forensik Klinik. Disitasi tanggal : 2 November 2008 dari : http://www.Forensikklinikku.webs.com. [Update : Oktober 2008]
  4. Saanin S. Aspek-Aspek Fisik/ Medis Serta Peran Pusat Krisis dan Trauma dalam Penanganan Korban Tindak Kekerasan. Disitasi Tanggal : 5 November dari : http://www.angelfire.com/nc/neurosurgery/kekerasan.htm. [Update : Januari 2007]
  5. Webmaster. Preventing Child Abuse Trough Education and Awereness. Di Sitasi tanggal 8 November 2008 dari : Http://www.childabuse.com. [Update : January 2008]
  6. U.S. Department of Health and Human Services, Children’s Bureau. Child Maltreatment 1998: Reports from the States to the National Child Abuse and Neglect Data System (NCANDS). Washington, D.C.: U.S. Government Printing Office. 2000.
  7. Fauzi A, Lucyanawati M, Hanifa L, et al. Kekerasan Terhadap Perempuan. Disitasi Tanggal 8 November 2008 dari : http://www.situs.kesrepro.info/ gendervaw/referensi2.htm . [Update : July 2008]
  8. Webmaster. Negara dan Kekerasan Terhadap Perempuan. Disitasi Tanggal 8 November 2008 dari : http://www.solusihukum.com. [Update : Januari 2004]
  9. The Royal College of Paediatrics and Child Health and The Association of Forensic Physicians. Guidance on Paediatric Forensic Examinations in Relation to Possible Child Sexual Abuse. Disitasi tanngal 2 November 2008 dari : http://www.afpweb.org.uk. [Update : September 2004]
  10. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Unicef, Indonesia.
  11. Hobbs CJ, Hanks HGI, Wynne JM: Violence and criminality. Dalam: Child Abuse and Neglect A Clinician’s Handbook. 2nd Edition. Churchill Livingstone, London. 1999.
  12. Bittner S, Newberger EH: Pediatric understanding of child abuse and neglect. Pediatric Rev 2:198, 1981.
  13. Meadow R: ABC of child abuse. Edition. BMJ, 1993.
  14. Sugiarto I. Aspek Klinis Kekerasan Pada Anak dan Pencegahannya. Disitasi tanggal 2 November 2008 dari : http://www.lcki.org/images/seminar /anak/tatalaksana.pdf. [Update : Juli 2007]
  15. Aziz AR. Perempuan Korban di Ranah Domestik. Disitasi tanggal 6 November 2007 dari http://www.nusantara.co.id [Update 21 Agustus 2007]
  16. Nurcahyo. Penganiayaan & Penelantaran anak. Disitasi tanggal 8 November 2008 dari : http://www.indosnesiindonesia.com. [Update Juli 2008].
Ditulis ulang oleh : dr.Bambang Widjanarko, SpOG
email : dodo.widjanarko@gmail.com

PEMERIKSAAN FORENSIK PADA KASUS PERKOSAAN & DELIK ADUAN LAIN


kuliah dari : dr. Djaja Surja Atmadja

PENDAHULUAN

image Dalam beberapa tahun terakhir ini kita kerapkali membaca berita mengenai kasus perkosaan atau perampokan/ pembunuhan yang disertai perkosaan.
Kasus-kasus semacam ini biasanya memiliki nilai berita yang tinggi dan akan diliput oleh berbagai mediamassa. Di pihak lain, masyarakat yang mengetahui berita semacam ini umumnya ikut terlibat dan seringkali merasa gemas dan mengutuk perbuatan itu.
Protes masyarakat dimanifestasikan dalam tulisan surat pembaca di berbagai media cetak. Telah sering kita baca bahwa masyarakat mengusulkan agar sanksi hukum terhadap pelaku perkosaan diperberat karena masyarakat merasa bahwa hukuman yang dijatuhkan oleh hakim terlalu ringan.
Dalam tulisan ini ingin dibahas mengenai aspek medis dan hukum dari delik perkosaan dan delik susila lainnya khususnya dari aspek pembuktiannya.

KENDALA PEMBUKTIAN

Dalam sistim peradilan yang dianut negara kita, seorang hakim tidak dapat menjatuhkan hukuman kepada seseorang terdakwa kecuali dengan sekurangnya dua alat bukti yang sah ia merasa yakin bahwa tindak pidana itu memang telah terjadi (pasal 183 KUHAP) .
Sedang yang dimaksud dengan alat bukti yang sah adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa (pasal 184 KUHAP).
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka pada suatu kasus perkosaan dan delik susila lainnya perlu diperjelas keterkaitan antara bukti bukti yang ditemukan :
  1. Tempat kejadian perkara,
  2. Tubuh atau pakaian korban,
  3. Tubuh atau pakaian pelaku dan
  4. Pada alat yang digunakan pada kejahatan ini ( penis ).
Keterkaitan antara 4 faktor inilah yang seringkali dijabarkan dalam prisma (segiempat) bukti dan merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan keyakinan hakim.
Pada banyak kasus perkosaan keterkaitan empat faktor ini tidak jelas atau tidak dapat ditemukan sehingga mengakibatkan tidak timbul keyakinan pada hakim yang bermanifestasi dalam bentuk hukuman yang ringan dan sekadarnya.
Beberapa hal yang dapat mengakibatkan terjadinya hal ini adalah hal-hal sbb:
  1. Masalah keutuhan barang bukti.
  2. Masalah tehnis pengumpulan benda bukti
  3. Masalah tehnis pemeriksaan forensik dan laboratorium
  4. Masalah pengetahuan dokter pemeriksa
  5. Masalah pengetahuan aparat penegak hukum

Masalah keutuhan barang bukti

Seorang korban perkosaan setelah kejadian yang memalukan tersebut umumnya akan merasa jijik dan segera mandi atau mencuci dirinya bersih-bersih. Seprei yang mengandung bercak mani atau darah seringkali telah dicuci dan diganti dengan seprei yang baru sebelum penyidik tiba di TKP.
Lantai yang mungkin mengandung benda bukti telah disapu dan dipel terlebih dahulu agar "rapi " kelihatannya bila polisi datang. Ketika korban akan dibawa ke dokter untuk diperiksa dan berobat seringkali ia mandi dan / atau mengganti pakaiannya terlebih dahulu dengan yang baru dan bersih.
Hal-hal semacam ini tanpa disadari akan menyebabkan hilangnya banyak benda bukti seperti cairan/bercak mani, rambut pelaku, darah pelaku dsb yang diperlukan untuk pembuktian di pengadilan.
Adanya kelambatan korban untuk melapor ke polisi karena perasaan malu dan ragu-ragu juga menyebabkan hilangnya benda bukti karena berlalunya waktu.

Masalah teknis penqumpulan benda bukti

Pengolahan TKP dan tehnik pengambilan barang bukti merupakan hal yang amat mempengaruhi pengambilan kesimpulan. Pada suatu kejadian perkosaan dan delik susila lainnya penyidik mencari sebanyak mungkin benda bukti yang mungkin ditinggalkan di TKP seperti adanya sidikjari, rambut, bercak mani pada lantai, seprei atau kertas tissue di tempat sampah dsb.
Tidak dilakukannya pencarian benda bukti, baik akibat kurangnya pengetahuan, kurang pengalaman atau kecerobohan, dapat mengakibatkan hilangnya banyak data yang penting untuk pengungkanan kasus.
Pada pemeriksaan terhadap tubuh korban cara pengambilan sampel usapan vagina yang salah juga dapat menyebabkan hasil negatif palsu.
Pada persetubuhan dengan melalui anus (sodomi) pengambilan bahan usapan dengan kapas lidi bukan dilakukan dengan mencolokkan lidi ke dalam liang anus saja tetapi harus dilakukan juga pada sela-sela lipatan anus, karena pada pengambilan yang pertama yang akan didapatkan umumnya adalah tinja dan bukan sperma.
Adanya bercak mani pada kulit, bulu kemaluan korban yang menggumpal atau pakaian korban, adanya rambut pada sekitar bulu kemaluan korban, adanya bercak darah atau epitel kulit pada kuku jari (jika korban sempat mencakar pelaku) adalah hal-hal yang tak boleh dilewatkan pada pemeriksaan.

Masalah teknis pemeriksaan forensik dan laboratorium

Kemampuan pemeriksaan pusat pelayanan perkosaan berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lainnya. Suatu klinik yang tidak melakukan pemeriksaan sperma sama sekali tentu tak dapat membedakan antara robekan selaput dara atau robekan akibat benda tumpul pada masturbasi. Klinik yang hanya melakukan pemeriksaan sperma langsung saja tentu tak dapat membedakan tidak adanya persetubuhan dengan persetubuhan dengan ejakulasi dari orang yang tak memiliki sel sperma (pasca vasektomi atau mandul tanpa sel sperma).
Suatu klinik yang hanya melakukan pemeriksaan sperma dengan uji fosfatase asam saja misalnya tentu hanya dapat menghasilkan kesimpulan terbatas: ini pasti bukan sperma atau ini mungkin sperma
Tetapi jika klinik tersebut juga melakukan pemeriksaan lain seperti uji PAN, Berberio, Florence, pewarnaan Baechi atau Malachite green maka kesimpulan yang dapat ditariknya adalah: pasti sperma, cairan mani tanpa sperma (pelakunya mandul tanpa sel sperma atau sudah disterilisasi) atau pasti bukan sperma. Lihat tabel.
Pemeriksaan pada kasus perkosaan untuk pencarian pelaku dilakukan dengan melakukan pemeriksaan pada bahan rambut atau bercak cairan mani, bercak/cairan darah atau kerokan kuku. Pemeriksaan yang dilakukan diantaranya adalah pemeriksaan pola permukaaan luar (kutikula) rambut, peme .riksaan golongan darah dan pemeriksaan sidik DNA.
Pemeriksaan sidik DNA yang dilakukan pada bahan yang berasal dari usapan vagina korban bukan saja dapat mengungkapkan pelaku perkosaan secara pasti, tetapi juga dapat mendeteksi jumlah pelaku pada kasus perkosaan dengan banyak pelaku (salome).
Pemeriksaan golongan darah dan sidik DNA atas bahan kerokan kuku (jika korban sempat mencakar) juga dapat digunakan untuk mencari pelakunya.
Jika hanya pemeriksaan golongan darah yang akan dilakukan pada bahan usapan vagina, maka bahan liur dari korban dan tersangka pelaku perlu juga diperiksa golongan darahnya untuk menentukan golongan sekretor atau non sekretor.
Orang yang termasuk golongan sekretor (sekitar 85 -06 dari populasi) pada cairan tubuhnya terdapat substansi golongan darah. Kelompok orang ini jika melakukan perkosaan akan meninggalkan cairan mani dan golongan darahnya sekaligus pada tubuh korban.
Sebaliknya orang yang termasuk golongan non-sekretor (15 % dari populasi)jika memperkosa hanya akan meninggalkan cairan mani saja tanpa golongan darah. Dengan demikian jika pada tubuh korban ditemukan adanya substansi golongan darah apapun, maka yang bersangkutan tetap harus dicurigai sebagai tersangkanya.
Adanya pemeriksaan sidik DNA telah mempermudah penyimpulan karena tidak dikenal adanya istilah sekretor dan non~sekretor pada pemeriksaan DNA. Dalam hal tersangka pelaku tertangkap basah dan belum sempat mencuci penisnya, maka secara konvensional leher kepala penisnya dapat diusapkan ke gelas obyek dan diberi uap lugol. Adanya sel epitel vagina yang berwarna coklat dianggap merupakan bukti bahwa penis itu baru ‘bersentuhan' dengan vagina alias baru bersetubuh. Laporan terakhir pada tahun 1995, menunjukkan bahwa gambaran epitel ini tak dapat diterima lagi sebagai bukti adanya epitel vagina, karena epitel pria baik yang normal maupun yang sedang mengalami infeksi kencing juga mempunyai epitel dengan gambaran yang sama.
Pada saat ini jika seorang pria diduga baru saja bersetubuh, maka kepala dan leher penisnya perlu dibilas dengan larutan NaCl. Air cucian ini selanjunya diperiksa ada tidaknya sel epitel secara mikroskopik dan jika ada maka pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan DNA dengan metode PCR (polymerase chain reaction)

Masalah pengetahuan dokter pemeriksa

Pada saat ini akibat kelangkaan dokter forensik, maka kasus perkosaan dan delik susila lainnya ditangani oleh dokter kebidanan atau bahkan dokter umum. Sebagai dokter klinik yang tugasnya terutama mengobati orang sakit, maka biasanya yang menjadi prioritas utama adalah mengobati korban. Ketidaktahuan mengenai prinsip-prinsip pengumpulan benda bukti dan cara pemeriksaannya membuat banyak bukti penting terlewatkan dan tak terdeteksi selama pemeriksaan.
Umumnya dokter kebidanan hanya memeriksa ada tidaknya luka di sekitar kemaluan, karena merasa hanya daerah inilah bidang keahliannya. Akibatnya tanda kekerasan didaerah lainnya tidak terdeteksi. Pemeriksaan toksikologi atas bahan darah atau urin untuk mendeteksi kekerasan berupa membuat korban pingsan atau tidak berdaya dengan obat-obatan umumnya tak pernah dilakukan.
Pemeriksaan ada tidaknya cairan mani biasanya hanya dilakukan dengan pemeriksaan langsung saja, sehingga adanya cairan mani tanpa sperma tak mungkin dideteksi. Pemeriksaan kearah pembuktian pelaku seiauh ini boleh dikatakan tak pernah dilakukan karena masih dianggap bukan kewajiban dokter. Dengan demikian selama ini dasar dari tuduhan terhadap pelaku perkosaan umumnya adal,ah hanya dari kesaksian korban dan pengakuan tersangka saja, padahal kedua alat bukti ini seringkali sulit dipercaya karena sifatnya yang subyektif.

Masalah pengetahuan aparat penegak hukum

Pada kasus-kasus semacam ini arah penyidikan harus jelas arahnya agar pengumpulan bukti menjadi terarah dan tajam pula. Kesalahan dalam membuat tuduhan, misalnya akan dapat membuat tersangka menjadi bebas sama sekali. Jika penyidik, jaksa serta hakim hanya menganggap perlu mencari alat bukti berupa pengakuan terdakwa dan mengabaikan pembuktian secara ilmiah lewat pemeriksaan medis dan kesaksian ahli maka tentunya pembuktian dilakukan seadanya.

PENENTUAN JENIS DELIK

Suatu laporan tentang seorang yang disetubuhi atau dilecehkan secara seksual oleh seseorang lainnya tidak selalu berarti kasusnya adalah perkosaan. Untuk kasus-kasus semacam ini kita harus memilah termasuk kategori delik yang manakah kasus tersebut, yang masing masing mempunyai kriteria dan hukuman yang berbeda satu sama lain.

Perkosaan

Menurut KUHP pasal 285 perkosaan adalah dengan kekerasan atau ancaman kekerasan menyetubuhi seorang wanita di luar perkawinan. Termasuk dalam kategori kekerasan disini adalah dengan sengaja membuat orang pingsan atau tidak berdaya (pasal 89 KUHP).
Hukuman maksimal untuk delik perkosaan ini adalah 12 tahun penjara.

Persetubuhan diluar perkawinan

Persetubuhan diluar perkawinan antara pria dan wanita yang berusia diatas 15 tahun tidak dapat dihukum kecuali jika perbuatan tersebut dilakukan terhadap wanita yang dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya.
Untuk perbuatan yang terakhir ini pelakunya dapat dihukum maksimal 9 tahun penjara (pasal 286 KUHP) jika persetubuhan dilakukan terhadap wanita yang diketahui atau sepatutnya dapat diduga berusia dibawah 15 tahun atau belum pantas dikawin maka pelakunya dapat diancam hukuman penjara maksimal 9 tahun.
Untuk penuntutan ini harus ada pengaduan dari korban atau keluarganya (pasal 287 KUHP) . Khusus untuk yang usianya dibawah 12 tahun maka untuk penuntutan tidak diperlukan adanya pengaduan.

Perzinahan

Perzinahan adalah persetubuhan antara pria dan wanita diluar perkawinan, dimana salah satu diantaranya telah kawin dan pasal 27 BW berlaku baginya.
Khusus untuk delik ini penuntutan dilakukan oleh pasangan dari yang telah kawin tadi yang diajukan dalam 3 bulan disertai gugatan cerai/pisah kamar/pisah ranjang. Perzinahan ini diancam dengan hukuman pen]ara selama maksimal 9 bulan.

Perbuatan cabul

Seseorang yang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, maka ia diancam dengan hukuman penjara maksimal 9 tahun (pasal 289 KUHP).
Hukuman perbuatan cabul lebih ringan, yaitu 7 tahun saja jika perbuatan cabul ini dilakukan terhadap orang yang sedang pingsan, tidak berdaya. berumur dibawah 15 tahun atau belum pantas dikawin dengan atau tanpa bujukan (pasal 290 KUHP). Perbuatan cabul yang dilakukan terhadap orang yang belum dewasa oleh sesama jenis diancam hukuman penjara maksimal 5 tahun (pasal 291 KUHP).
Perbuatan cabul yang dilakukan dengan cara pemberian, menjanjikan uang atau barang, menyalahgunakan wibawa atau penyesatan terhadap orang yang belum dewasa diancam dengan hukuman penjara maksimal 5 tahun (pasal 293 KUHP) .
Perbuatan cabul yang dilakukan terhadap anak, anak tiri, anak angkat, anak yang belum dewasa yang pengawasan, pemeliharaan, pendidikan atau penjagaannya diserahkan kepadanya, dengan bujang atau bawahan yang belum dewasa diancam dengan hukuman penjara maksimal 7 tahun.
Hukuman yang sama juga diberikan pada pegawai negeri yang melakukan perbuatan cabul dengan bawahan atau orang yang penjagaannya dipercayakan kepadanya, pengurus, dokter, guru, pegawai, pengawas atau pesuruh dalam penjara, tempat peker]aan negara, tempat pendidikan, rumah piatu, rumah sakit, rumah sakit jiwa atau lembaga sosial yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dimasukkan ke dalamnya (pasal 294 KUHP).
Orang yang dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan, menjadi penghubung bagi perbuatan cabul terhadap korban yang belum cukup umur diancam dengan hukuman penjara maksimal 5 tahun (pasal 295 KUHP).
Jika perbuatan ini dilakukan sebagai pencarian atau kebiasaan maka ancaman hukumannya satu tahun 4 bulan atau denda paling banyak Rp. 15.000,-

PEMERIKSAAN KORBAN

image Jika korban dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis, maka dokter punya kewajiban untuk melaporkan kasus tersebut ke polisi atau menyuruh keluarga korban untuk melapor ke polisi.
Korban yang melapor terlebih dahulu ke polisi pada akhirnya juga akan dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis sekaligus pemeriksaan forensik untuk dibuatkan visum et repertumnya.
Sebagai dokter klinis, pemeriksa bertugas menegakkan diagnosis dan melakukan pengobatan. Adanya kemungkinan terjadinya kehamilan atau penyakit akibat hubungan seksual (PHS) harus diantisipasi dan dicegah dengan pemberian obat-obatan. Pengobatan terhadap luka dan keracunan harus dilakukan seperti biasanya. Pengobatan secara psikiatris untuk penanggulangan trauma pasca perkosaan juga sangat diperlukan untuk mengurangi penderitaan korban. Sebagai dokter forensik pemeriksa bertugas mengumpulkan berbagai. bukti yang berkaitan dengan pemenuhan unsur-unsur delik seperti yang dinyatakan oleh undang-undang, dan menyusun laporan visum et repertum.
Secara umum dokter bertugas mengumpulkan bukti adanya kekerasan, keracunan, tanda persetubuhan, penentuan usia korban dan pelacakan benda bukti yang berasal dari pelaku. Pencarian benda-benda bukti yang berasal dari pelaku pada tubuh atau pakaian korban dan tempat kejadian perkara merupakan hal penting yang paling sering dilupakan oleh dokter.
Pada kasus perkosaan dan delik susila lainnya perlu dikumpulkan informasi-informasi sebagai berikut :

Umur korban

Umur korban amat perlu ditentukan pada pemeriksaan medis, karena hal itu menentukan jenis delik (delik aduan atau bukan), jenis pasal yang dilanggar dan jumlah hukuman yang dapat dijatuhkan.
Dalam hal korban mengetahui secara pasti tanggal lahirnya/umurnya, apalagi jika dikuatkan oleh bukti diri (KTP,SIM dsb) , maka umur dapat langsung disimpulkan dari hal tersebut.
Akan tetapi jika korban tak mengetahui umurnya secara pasti maka perlu diperiksa erupsi gigi molar II dan molar III. Gigi molar II mengalami erupsi pada usia kurang lebih 12 tahun, sedang gigi molar III pada usia 17 sampai 21 tahun. Untuk wanita yang telah tumbuh molar IInya, perlu dilakukan foto ronsen gigi. Jika setengah sampai seluruh mahkota molar III sudah mengalami mineralisasi (terbentuk) , tapi akarnya belum maka usianya kurang dari 15 tahun.
Kriteria sudah tidaknya wanita mengalami haid pertama atau menarche tak dapat dipakai untuk menentukan umur karena usia menarch saat ini tidak lagi pada usia 15 tahun tetapi seringkali jauh lebih muda dari itu.

Tanda kekerasan

Yang dimaksud dengan kekerasan pada delik susila adalah kekerasan yang menunjukkan adanya unsur pemaksaan, seperti jejas bekapan pada hidung, mulut dan bibir, jejas cekik pada leher, kekerasan pada kepala, luka lecet pada punggung atau bokong akibat penekanan, memar pada lengan atas dan paha akibat pembukaan secara paksa, luka lecet pada pergelangan tangan akibat pencekalan dsb.
Adanya luka-luka ini harus dibedakan dengan luka-luka akibat "foreplay" pada persetubuhan yang "biasa" seperti luka isap (cupang) pada leher, daerah payudara atau sekitar kemaluan, cakaran pada punggung (yang sering -terjadi saat orgasme) dsb.
Luka-luka yang terakhir ini memang merupakan kekerasan tetapi bukan kekerasan yang dimaksud pada delik perkosaan. Adanya luka-luka jenis ini harus dinyatakan secara jelas dalam kesimpulan visum et repertum untuk menghindari kesalahan interpretasi oleh aparat penegak hukum.
Tanpa adanya kejelasan ini suatu kasus persetubuhan biasa bisa disalahtafsirkan sebagai perkosaan yang berakibat hukumannya menjadi lebih berat.
Pemeriksaan toksikologi untuk beberapa jenis obat-obatan yang umum digunakan untuk membuat orang mabuk atau pingsan perlu pula dilakukan, karena tindakan membuat orang mabuk atau pingsan secara sengaja dikategorikan juga sebagai kekerasan. Obat-obatan yang perlu diperiksa adalah obat penenang, alkohol, obat tidur, obat perangsang (termasuk ecstasy) dsb.

Tanda persetubuhan

Tanda persetubuhan secara garis besar dapat dibagi dalam tanda penetrasi dan tanda ejakulasi.
Tanda penetrasi biasanya hanya jelas ditemukan pada korban yang masih kecil atau belum pernah melahirkan atau nullipara. Pada korban-korban ini penetrasi dapat menyebabkan terjadinya robekan selaput dara sampai ke dasar pada lokasi pukul 5 sampai 7, luka lecet, memar sampai luka robek baik di daerah liang vagina, bibir kemaluan maupun daerah perineum. Adanya penyakit keputihan akibat jamur Candida misalnya dapat menunjukkan adanya erosi yang dapat disalah artikan sebagai luka lecet oleh pemeriksa yang kurang berpengalaman. Tidak ditemukannya luka-luka tersebut pada korban yang bukan nulipara tidak menyingkirkan kemungkinan adanya penetrasi.
Tanda ejakulasi bukanlah tanda yang harus ditemukan pada persetubuhan, meskipun adanya ejakulasi memudahkan kita secara pasti menyatakan bahwa telah terjadi persetubuhan. Ejakulasi dibuktikan dengan pemeriksaan ada tidaknya sperma dan komponen cairan mani. Untuk uji penyaring cairan mani dilakukan pemeriksaan fosfatase asam. Jika uji ini negatif, kemungkinan adanya ejakulasi dapat disingkirkan. Sebaliknya jika uji ini positif, maka perlu dilakukan uji pemastian ada tidak sel sperma dan cairan mani.
Usapan lidi kapas diambil dari daerah labia minora, liang vagina dan kulit yang menunjukkan adanya kerak. Adanya rambut kemaluan yang menggumpal harus diambil dengan cara digunting, karena umumnya merupakan akibat ejakulasi di daerah luar vagina.
Untuk mendeteksi ada tidaknya sel mani dari bahan swab dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopik secara langsung terhadap ekstrak atau dengan Pembuatan preparat tipis yang diwarnai dengan pewarnaan malachite green atau christmas tree.
Jika yang akan diperiksa sampel berupa bercak peda pakaian dapat dilakukan pemeriksaan Baechi, dimana adanya sperma akan tampak berupa sel sperma yang terjebak diantara serat pakaian. Sel sperma positip merupakan tanda pasti adanya ejakulasi. Kendala utama pada pemeriksaan ini adalah jika sel sperma telah hancur bagian ekor dan lehernya sehingga hanya tampak kepalanya saja. Untuk mendeteksi kepala sperma semacam ini harus diyakini bahwa memang kepala tersebut masih memiliki topi (akrosom).
Adanya cairan mani dicari dengan pemeriksaan terhadap beberapa komponen sekret kelenjar kelamin pria (khususnya kelenjar prostat) yaitu spermin (dengan uji Florence), cholin (dengan uji Berberio) dan zink (dengan uji PAN) . Suatu temuan berupa sel sperma negatif tapi komponen cairan mani positip menunjukkan kemungkinan ejakulasi oleh pria yang tak memiliki sel sperma (azoospermi) atau telah menjalani sterilisasi atau vasektomi.

Dampak perkosaan

Dampak perkosaan berupa terjadinya gangguan jiwa, kehamilan atau timbulnya penyakit kelamin harus dapat dideteksi secara dini. Khusus untuk dua hal terakhir, pencegahan dengan memberikan pil kontrasepsi serta antibiotic lebih bijaksana dilakukan ketimbang menunggu sampai komplikasi tersebut muncul.

Pelaku perkosaan

Aspek pelaku perkosaan merupakan merupakan aspek yang paling sering dilupakan oleh dokter. Padahal tanpa adanya pemeriksaan kearah ini, walaupun telah terbukti adanya kemungkinan perkosaan. amatlah sulit menuduh seseorang sebagai pelaku pemerkosaan. Untuk mendapatkan informasi ini dapat dilakukan pemeriksaan kutikula rambut dan pemeriksaan golongan darah dan pemeriksaan DNA dari sampel yang positip sperma/maninya.

PEMERIKSAAN DNA DALAM BIDANG KEDOKTERAN FORENSIK

Pertama kali diperkenalkan oleh Jeffrey pada tahun 1985. Beliau menemukan bahwa pita DNA dari setiap individu dapat dilacak secara simultan pada banyak lokus sekaligus dengan pelacak DNA (DNA probe) yang diciptakannya.
Pola DNA ini dapat divisualisasikan berupa urutan pita-pita yang berbaris membentuk susunan yang mirip dengan gambaran barcode pada barang di supermarket. Uniknya ternyata pita-pita DNA ini bersifat spesifik individu, sehingga tak ada orang yang memiliki pita yang sama persis dengan orang lain.
Pada kasus perkosaan ditemukannya pita-pita DNA dari benda bukti atau karban yang ternyata identik dengan pita-pita DNA tersangka menunjukkan bahwa tersangkalah yang menjadi donor sperma tadi. Adanya kemungkinan percampuran antara sperma pelaku dan cairan vagina tidak menjadi masalah, karena pada proses kedua jenis DNA ini dapat dipisahkan satu sama lain. Satu-satunya kesalahan yang mungkin terjadi adalah kalau pelakunya ternyata adalah saudara kembar identik dari si tersangka, karena keduanya memiliki pita DNA yang sama persis.
Perkembangan lebih lanjut pada bidang forensik adalah ditemukannya pelacak DNA yang hanya melacak satu lokus saja (single locus probe) . Berbeda dengan tehnik Jeffreys yang menghasilkan banyak pita, disini pita yang muncul hanya 2 buah saja. Penggunaan metode ini pada kasus perkosaan sangat menguntungkan karena ia dapat digunakan untuk membuat perkiraan jumlah pelaku pada kasus perkosaan dengan pelaku lebih dari satu. Sebagai contoh, jika pita DNA pada bahan usapan vagina ada 6 buah, maka sedikitnya ada (6 : 2) yaitu 3 orang pelaku. Untuk mempertinggi derajat keakuratan pemeriksaan ini, umumnya dilakukan pemeriksaan beberapa lokus sekaligus. Adanya pita yang sama dengan tersangka menunjukkan bahwa tersangka itu adalah pelakunya, sedang pita yang tidak sama menyingkirkan tersangka sebagai pelaku.
Ditemukannya metode penggandaan DNA secara enzimatik (metode Polymerase Chain Reaction atau PCR) oleh kelompok Cetus, membuka lebih banyak kemungkinan pemeriksaan DNA. Dengan metode ini bahan sampel yang amat minim jumlahnya tidak lagi menjadi masalah karena DNAnya dapat diperbanyak jutaan sampai milyaran kali lipat di dalam mesin yang dinamakan mesin PCR atau thermocycler. Dengan metode ini waktu pemeriksaan juga banyak dipersingkat, lebih sensitif serta lebih spesifik pula. Pada metode ini analisis DNA dapat dilakukan dengan sistim dotblot yang berbentuk bulatan berwarna biru, sistim elektroforesis yang berbentuk pita DNA atau dengan pelacakan urutan basa dengan metode sekuensing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar