Kamis, 28 April 2011

fluor albus

SITOLITIK VAGINOSIS

SITOLITIK VAGINOSIS

Love's first rose
APA YANG DIMAKSUD DENGAN SITOLITIK VAGINOSIS ( cytolitic vaginosis )
Sitolitik vaginosis tidak jarang merupakan penyebab penyakit keputihan pada wanita.

APA PENYEBAB SITOLITIK VAGINOSIS ?

Dalam keadaan normal, pada vagina wanita dewasa terdapat koloni laktobasilus. Bakteri ini memproduksi asam laktat yang mempertahankan keasaman vagina dan kandungan hidrogen peroksida yang merupakan antiseptik. Kuman laktobasilus melindungi vagina terhadap infeksi kuman patogen dan sangat dibutuhkan agar vagina tetap dalam keadaan sehat.
Sitolitik vaginosis terjadi akibat pertumbuhan laktobasilus secara berlebihan. Keberadaan laktobasilus secara berlebihan akan menimbulkan iritasi dan kerusakan terhadap sel mukosa vagina, Sel epitel yang rusak tersebut akan terkelupas dan berada dalam sekresi vagina.

APA GEJALA SITOLITIK VAGINOSIS?

Sejumlah penderita sitolitik vaginosis sering tidak mengeluhkan keadaan ini dan bahkan seringkali pula tidak sadar bila mereka menderita sitolitik vaginosis. Mereka baru menyadari adanya kelainan ini saat memperoleh hasil pemeriksaan hapusan vagina atau hapusan servik. Sejumlah penderita menyampaikan keluhan sebagai berikut :
  • Keluarnya cairan berwarna putih per vaginam dalam jumlah yang amat banyak, sifat cairan encer atau kental dan bergumpal
  • Rasa gatal dan pedih pada vagina dan vulva (pruritus vulvae)
  • Rasa pedih pada vulva (vulvodynia) terutama saat miksi (dysuria)
  • Sakit saat sanggama (dyspareunia)
  • Keluhan diatas mirip vaginitis akibat infeksi jamur. Seperti halnya infeksi jamur, penyakit ini seringkali menjadi semakin hebat pada paruh kedua siklus haid. Meskipun demikian, hapusan vagina seringkali tak dapat menemukan jamur penyebabnya yaitu candida albican. Pada kasus sitolitik vaginosis pH vagina berkisar 3.3 sampai 5.5, dan pengobatan dengan memberikan krim serta tablet anti jamur tidak efektif.

BAGAIMANA MENEGAKKAN DIAGNOSIS SITOLITIK VAGINOSIS?

Diagnosis sitolitik vaginosis harus dipertimbangkan pada wanita dewasa dengan keluhan vaginal yang tidak mereda atau seringkali berulang dengan terapi anti jamur. Pada kasus ini harus dilakukan pengambilan dan pemeriksaan sediaan hapusan vagina. Diagnosis ditegakkan bila hasil pemeriksaan memperlihatkan jumlah laktobasilus dan sel epitelial yang banyak serta tidak dijumpai adanya tanda infeksi jamur atau mikro organisme lain sebagai penyebab keputihan.
BAGAIMANA PENGOBATAN SITOLITIK VAGINOSIS ?
Sebagian besar penderita tidak memerlukan terapi dan bila diberikan maka terapi anti jamur harus dihentikan.
Pada wanita dengan keluhan sitolitik vaginosis dapat diberikan nasihat agar hanya menggunakan tampon saat menstruasi dan melakukan rendam duduk ( sitz baths ) atau bilas vagina dengan cairan sodium bicarbonat ( baking soda ) untuk meningkatkan pH vagina sehingga memperlambat laju pertumbuhan laktobasilus.
Gunakan 2 – 4 sendok makan baking soda yang dicampur air hangat secukupnya untuk rendam duduk beberapa kali dalam seminggu dan dilanjutkan seminggu sekali untuk mencegah kekambuhan.

Minggu, 11 Oktober 2009

VAGINOSIS BAKTERIAL


Vaginosis Bakterial adalah penyebab utama dari fluor albus akan tetapi jarang tanpa disertai keluhan lain. Vaginosis bakterial terjadi akibat digantinya mikroflora vagina normal yang “healthy” ( terutama dari jenis Lactobacillus jensenii dan Lactobacillus crispatus ) oleh sekelompok mikroorganisme penyebab VB :
  • Gardenerella Vaginalis
  • Mycoplasma genital ( M.hominis , U. urealyticum)
  • Bakteri vagina anerobik ( Prevotella, Bacteriodes dan spesies Mobiluncus )
Faktor resiko terjadinya Vaginosis Baterial :
  1. Pasangan seksual yang baru
  2. Merokok
  3. AKDR
  4. Pembilasan vagina yang terlampau sering
Gambaran klinik klasik dari vaginosis bakterial :
  1. Fluor albus yang profuse
  2. Seperti susu encer
  3. Fluor berbau amis terutama pasca sanggama
  4. Disuria dan Gatal sekitar vulva
  5. Pada wanita hamil sering menyebabkan partus prematurus
  6. Meningkatkan resiko terjadinya infeksi chlamydia, gonorrhoe dan PID serta HIV.
Pada praktek klinis , diagnosa VB ditegakkan dengan menggunakan kriteria Amsel :
  1. Cairan vagina putih kekuningan yang encer dan homogen
  2. clue cell”
  3. pH vagina lebih dari 4.5
  4. Keluarnya bau amis setelah ditambahkan KOH 10% (whiff test positif )

TERAPI :
  • Metronidazole 2 dd 500 mg perhari selama 7 hari atau
  • Krim Clindamycin 2% dalam aplikator ( 5 g) setiap malam selama 7 hari

Rujukan :
  1. "Vaginal Infections -- How to Diagnose and Treat Them: Bacterial Vaginosis or Vaginal Bacteriosis". Medscape. http://www.medscape.com/viewarticle/463842_3. Retrieved 10 October 2009.
  2. "National guideline for the management of bacterial vaginosis (2006).". Clinical Effectieness Group, British Association for Sexual Health and HIV (BASHH). http://www.guideline.gov/summary/summary.aspx?doc_id=11602.
  3. http://wguide.uchicago.edu/3sexed.html
  4. Amsel R, Totten PA, Spiegel CA, Chen KC, Eschenbach D, Holmes KK (1983). "Nonspecific vaginitis. Diagnostic criteria and microbial and epidemiologic associations". Am. J. Med. 74 (1): 14–22. doi:10.1016/0002-9343(83)91112-9. PMID 6600371.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar