Senin, 07 Maret 2011

Irritable Bowel Syndrom

Definisi Irritable Bowel Syndrome (IBS)

Irritable bowel syndrome (IBS) adalah satu dari penyakit-penyakit usus yang paling umum dan mempengaruhi suatu perkiraan dari 15% orang-orang di Amerika. Istilah, usus yang teriritasi (irritable bowel), adalah bukan sesuatu yang terutama baik karena ia mengandung arti bahwa usus merespon mudah teriritasi pada stimuli yang normal, dan ini mungkin adalah atau mungkin bukan kasusnya. Beberapa nama-nama untuk IBS, termasuk spastic colon, spastic colitis, dan mucous colitis, menjadi bukti pada kesulitan mendapatkan suatu pegangan yang bersifat menguraikan pada penyakit. Lebih dari itu, setiap dari nama-nama lain sendirinya adalah menjadi persoalan seperti istilah IBS.

IBS adalah paling baik digambarkan sebagai suatu penyakit fungsional. Konsep dari penyakit fungsional adalah terutama bermanfaat ketika mendiskusikan penyakit dari saluran pencernaan. Konsep diterapkan pada organ-organ berotot dari saluran pencernaan; kerongkongan, lambung, usus kecil, kantong empedu, dan kolon (usus besar). Apa yang dimaksud dengan istilah fungsional adalah bahwa salah satu dari keduanya yaitu otot-otot dari organ-organ atau syaraf-syaraf yang mengontrol organ-organ tidak bekerja secara normal, dan sebagai akibatnya, organ-organ tidak berfungsi secara normal. Syaraf-syaraf yang mengontrol organ-organ termasuk tidak hanya syaraf-syaraf yang terletak didalam otot-otot dari organ-organ namun juga syaraf-syaraf dari sumsum tulang belakang (spinal cord) dan otak.

Beberapa penyakit saluran pencernaan dapat dilihat dan didiagnosis dengan mata telanjang, seperti borok-borok dari lambung. Jadi, borok-borok (ulcers) dapat terlihat pada operasi, pada x-rays, dan pada endoscopies. Penyakit-penyakit lain tidak dapat dilihat dengan mata telanjang namun dapat dilihat dan didiagnosis dengan mikroskop. Contohnya, penyakit celiac dan collagenous colitis didiagnosis oleh pemeriksaan mikroskop dari biopsi-biopsi usus kecil dan usus besar (kolon). Berlawanan dengannya, penyakit-penyakit fungsi saluran pencernaan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang atau dengan mikroskop. Pada beberapa kejadian-kejadian, fungsi abnormal dapat didemonstrasikan dengan tes-tes, contohnya, studi-studi pengosongan lambung atau studi-studi kemampuan bergerak (motility) antro-duodenal. Bagaimanapun, tes-tes ini seringkali adalah kompleks, tidak tersedia secara luas, dan tidak mendeteksi secara terpercaya kelainan-kelainan fungsional. Oleh sebab itu, penyakit-penyakit pencernaan fungsional adalah yang melibatkan fungsi abnormal dari organ-organ pencernaan dimana kelainan-kelainan tidak dapat dilihat pada organ-organ dengan salah satu dari keduanya yaitu mata telanjang atau mikroskop.

Adakalanya, penyakit-penyakit yang diperkirakan adalah fungsional akhirnya ditemukan berhubungan dengan kelainan-kelainan yang dapat dilihat. Kemudian, penyakit keluar dari kategori fungsional. Suatu contoh dari ini adalah infeksi Helicobacter pylori dari lambung. Banyak pasien-pasien dengan gejala-gejala usus bagian atas yang ringan yang diperkirakan mempunyai fungsi abnormal dari lambung atau usus-usus telah ditemukan mempunyai suatu infeksi dari lambung dengan Helicobacter pylori. Infeksi ini dapat didiagnosis dengan melihat bakteri dan peradangan (gastritis) yang disebabkannya dibawah mikroskop . Ketika pasien-pasien dirawat dengan antibitotik-antibiotik, Helicobacter, gastritis, dan gejala-gejala hilang. Jadi, pengenalan dari infeksi Helicobacter pylori mengeluarkan beberapa penyakit-penyakit pasien dari kategori fungsional.

Perbedaan antara penyakit fungsional dan penyakit bukan fungsional mungkin dalam kenyataannya adalah kabur. Jadi, bahkan penyakit-penyakit fungsional kemungkinan mempunyai kelainan-kelainan biokimia atau molekul yang berkaitan yang akhirnya akan mampu diukur. Contohnya, penyakit-penyakit fungsional dari lambung dan usus-usus mungkin akhirnya ditunjukan disebabkan oleh tingkatan-tingkatan yang berkurang dari kimia-kimia yang normal didalam organ-organ pencernaan, sumsum tulang belakang (spinal cord), atau otak. Haruskah suatu penyakit yang ditunjukan disebabkan oleh suatu pengurangan kimia tetap dipertimbangkan sebagai suatu penyakit fungsional ? Saya kira tidak. Pada situasi teoritis ini, kita tidak dapat melihat kelainan dengan mata telanjang atau mikroskop, namun kita dapat mengukurnya. Jika kita dapat mengukur suatu kelainan yang berkaitan atau yang menyebabkannya, penyakitnya kemungkinan harus tdak lagi dipertimbangkan sebagai fungsional.

Meskipun kekurangan-kekurangan dari istilah, fungsional, konsep dari suatu kelainan fungsional adalah bermanfaat untuk pendekatan banyak gejala-gejala yang berasal dari organ-organ berotot saluran pencernaan. Konsep ini terutam diterapkan pada gejala-gejala untuk mana tidak ada kelainan-kelainan yang berkaitan yang dapat dilihat dengan mata telanjang atau mikroskop.

Ketika IBS adalah suatu penyakit fungsional utama, adalah penting untuk menyebutkan suatu penyakit fungsional utama kedua dirujuk sebagai dyspepsia, atau dyspepsia fungsional. Gejala-gejala dari dyspepsia diperkirakan berasal dari saluran pencernaan bagian atas; kerongkongan, lambung, dan bagian pertama dari usus kecil. Gejala-gejala termasuk ketidakenakan perut bagian atas, perut kembung (perasaan subyektif dari kepenuhan perut tanpa penggelembungan yang obyektif), atau penggelembungan yang obyektif (pembengkakan atau pembesaran). Gejala-gejala mungkin atau mungkin tidak berhubungan dengan makanan-makanan. Mungkin ada mual dengan atau tanpa muntah dan cepat kenyang (suatu perasaan kekenyangan setelah makan hanya sejumlah kecil makanan).

Studi kelainan-kelainan fungsional dari saluran pencernaan seringkali dikategorikan oleh organ yang terlibat. Jadi, ada kelainan-kelainan fungsional dari kerongkongan, lambung, usus kecil, kolon (usus besar), dan kantong empedu. Jumlah penelitian dari kelainan-kelainan fungsional telah difokuskan kebanyakan pada kerongkongan dan lambung (seperti dyspepsia), mungkin karena organ-organ ini adalah mudah untuk dicapai dan dipelajari. Penelitian kedalam kelainan-kelainan fungsional yang mempengaruhi usus kecil dan usus besar (contohna IBS) adalah lebih sulit untuk dilaksanakan dan ada lebih sedikit kesepakatan diantara studi-studi penelitian. Ini kemungkinan adalah suatu refleksi dari kerumitan dari aktivitas-aktivitas dari usus kecil dan usus besar dan kesulitan dalam mempelajari aktivitas-aktivitas ini. Penyakit-penyakit fungsional dari kantong empedu, seperti yang dari usus kecil dan usus besar, juga adalah lebih sulit untuk dipelajari.

Penyebab IBS

Seperti didiskusikan sebelumnya, IBS dipercayai disebabkan oleh fungsi abnormal (dysfunction) dari otot-otot dari organ-organ saluran pencernaan atau syaraf-syaraf yang mengontrol organ-organ. Pengontrolan syaraf dari saluran pencernaan, bagaimanpun, adalah kompleks. Suatu sistim dari syaraf-syaraf berlari di seluruh panjang dari saluran pencernaan dari kerongkongan sampai ke anus (dubur) didalam dinding-dinding yang berotot dari organ-organ. Syaraf-syaraf ini berkomunikasi dengan syaraf-syaraf lain yang berjalan ke dan dari sumsum tulang belakang (spinal cord). Syaraf-syaraf didalam spinal cord, pada gilirannya, berjalan ke dan dari otak. Saluran pencernaan dilebihi dalam jumlah-jumlah syaraf-syaraf yang dikandungnya hanya oleh spinal cord dan otak. Jadi, fungsi abnormal dari sistim syaraf pada IBS mungkin terjadi pada suatu organ pencernaan yang berotot, sumsum tulang belakang (spinal cord), atau otak.

Sistim syaraf yang mengontrol orggan-organ pencernaan, seperti dengan kebanyakan organ-organ lain, mengandung keduanya syaraf-syaraf sensory dan motor. Syaraf-syaraf sensory secara terus menerus merasakan apa yang terjadi didalam organ dan menyampaikan informasi ini ke syaraf-syaraf di dinding organ. Dari sana, informasi dapat disampaikan ke sumsum tulang belakang (spinal cord) dan otak. Informasi diterima dan diproses di dinding organ, spinal cord, atau otak. Kemudian, berdasarkan masukan sensory ini dan caranya masukan diproses, perintah-perintah (respon-respon) dikirim ke organ melalui syaraf-syaraf motor. Dua dari respon-respon motor yang paling umum pada usus adalah kontraksi (contraction) atau relaksasi (relaxation) dari otot organ dan pengeluaran dari cairan dan/atau lendir kedalam organ.

Seperti telah disebutkan, fungsi abnormal dari syaraf-syaraf organ-organ pencernaan, paling sedikit secara teori, mungkin terjadi pada organ, sumsum tulang belakang, atau otak. Selain itu, kelainan-kelainan mungkin terjadi pada syaraf-syaraf sensory, syaraf-syaraf motor, atau pada pusat-pusat pemrosesan usus, spinal cord, atau otak. Beberapa peneliti-peneliti memperdebatkan bahwa penyebab dari penyakit-penyakit fungsional adalah kelainan-kelainan pada fungsi dari syaraf-syaraf sensory. Contohnya, aktivitas-aktivitas normal, seperti peregangan dari usus kecil oleh makanan, mungkin memberikan kenaikan pada tanda-tanda abnormal sensory yang dikirim ke spinal cord dan otak, dimana mereka dirasakan sebagai nyeri/sakit.

Peneliti-peneliti lain berdebat bahwa penyebab dari penyakit-penyakit fungsional adalah kelainan-kelainan pada fungsi dari syaraf-syaraf motor. Contohnya, perintah-perintah abnormal melalui syaraf-syaraf motor mungkin menghasilkan suatu kejang yang menyakitkan (contraction) dari otot-otot. Masih yang lain-lain berdebat bahwa pusat-pusat pemrosesan yang berfungsi abnormal bertanggung jawab untuk penyakit-penyakit fungsional karena mereka salah menafsirkan sensasi-sensasi yang normal atau mengirim perintah-perintah abnormal ke organ. Faktanya, beberapa penyakit-penyakit fungsional mungkin disebabkan oleh kelainan fungsi (dysfunction) sensory, motor dysfunction, atau kelainan fungsi keduanya yaitu sensory dan motor. Masih yang lain-lain mungkin disebabkan oleh kelainan-kelainan didalam pusat-pusat pemrosesan. Satu area yang menerima sebagian besar perhatian ilmu pengetahuan adalah peran yang potensial dari gas yang dihasilkan oleh bakteri usus pada pasien-pasien dengan IBS. Studi-studi telah menunjukan bahwa pasien-pasien dengan IBS menghasilkan jumlah-jumlah gas yang lebih besar daripada individu-individu tanpa IBS, dan gas mungkin tertahan lebih lama didalam usus kecil. Diantara pasien-pasien dengan IBS, ukuran perut meningkat sepanjang hari, mencapai suatu maksimum pada sore hari dan kembali ke basis pada pagi hari berikutnya. Pada individu-individu tanpa IBS, tidak ada penigkatan pada ukuran perut selama seharian.

Telah ada banyak kontroversi tentang peran yang mungkin dimainkan oleh pencernaan dan/atau penyerapan gula makanan yang buruk dalam perburukan gejala-gejala dari IBS. Pencernaan yang buruk dari lactose, suatu gula dalam susu, adalah sangat umum seperti penyerapan yang buruk dari fructose, suatu pemanis yang ditemukan pada banyak makanan-makanan yang diproses. Pencernaan atau penyerapan yang buruk dari gula-gula ini dapat memperburuk gejala-gejala dari IBS karena gula-gula yang tidak terserap seringkali menyebabkan pembentukan gas yang meningkat.

Meskipun kelainan-kelainan ini dalam produksi dan pengangkutan dari gas dapat memberikan kenaikan pada beberapa gejala-gejala dari IBS, lebih banyak kerja akan diperlukan untuk dilakukan sebelum peran dari gas usus pada IBS menjadi jelas.

Lemak makanan pada individu-individu yang sehat menyebabkan makanan dan juga gas untuk bergerak lebih perlahan melalui lambung dan usus kecil. Beberapa pasien-pasien dengan IBS mungkin bahkan merespon pada lemak makanan dalam suatu cara yang berlebihan dengan perlambatan yang lebih besar. Jadi, lemak makanan dapat dan mungkin melakukan perburukan gejala-gejala dari IBS.

Gejala-Gejala IBS

Tujuan utama dari saluran pencernaan adalah untuk mencerna (memecah) dan menyerap (memasukan kedalam aliran darah) makanan. Dalam rangka untuk memenuhi tujuan ini, makanan harus digiling, dicampur, dan diangkut melalui usus-usus, dimana ia dicerna dan diserap. Sebagai tambahan, bagian-bagian makanan yang tidak tercerna dan tidak terserap harus dikeluarkan dari tubuh.

Pada penyakit-penyakit fungsional dari saluran pencernaan, fungsi-fungsi penggilingan, mencampur, mencerna, dan penyerapan terganggu pada hanya suatu derajat yang kecil. Fungsi-fungsi ini pada dasarnya dipelihara, kemungkinan karena suatu kelebihan kapasitas yang telah terbentuk dari saluran pencernaan untuk melaksanakan fungsi-fungsi ini. Fungsi yang paling umum terpengaruh pada penyakit-penyakit ini adalah pengangkutan. Pada lambung dan usus kecil, gejala-gejala dari pengangkutan yang lambat adalah mual, muntah, perut kembung (perasaan perut yang kepenuhan), dan penggelembungan perut (pembesaran). Gejala dari pengangkutan yang cepat biasanya adalah diare. Interpretasi dari gejala-gejala, bagaimanapun, mungkin adalah lebih rumit daripada ini. Contohnya, katakan bahwa seseorang mempunyai pengosongan lambung yang cepatnya secara abnormal. Perasaan dari pengosongan yang cepat ini oleh syaraf-syaraf sensory usus secara normal membuat suatu respon syaraf motor untuk memperlambat pengosongan lambung dan pengangktan melalui usus kecil. Jadi, pengosongan lambung yang cepat mungkin memberikan kenaikan pada gejala-gejala dari pengangkutan yang diperlambat.

Pada usus besar (kolon), pengangkutan yang diperlambat secara abnormal atau yang cepat berakibat pada sembelit atau diare. Sebagai tambahan, mungkin ada penigkatan jumlah-jumlah dari lendir yang melapisi feces (tinja) atau suatu perasaan evakuasi yang tidak komplit setelah membuang air besar.

Seperti didiskusikan sebelumnya, sensasi-senssasi normal mungkin diproses dan dirasakan secara abnormal. Suatu kelainan macam ini dapat berakibat pada kembung dan nyeri perut. Sensasi-sensasi yang diproses secara abnormal dari organ-organ pencernaan juga mungkin menjurus pada respon-respon motor yang menyebabkan gejala-gejala dari pengangkutan yang diperlambat atau cepat.

Pengangkutan yang diperlambat dari makanan yang dicerna melalui usus kecil mungkin dirumitkan, contohnya, oleh pertumbuhan bakteri yang berlebihan. Pada pertumbuhan bakteri yang belebihan, bakteri yang menghasilkan gas yang secara normal dibatasi pada usus besar bergerak keatas kedalam usus kecil. Disana, mereka terpapar pada jumlah-jumlah yang lebih besar dari makanan yang tidak tercerna daripada di usus besar, yang mereka rubah menjadi gas. Pembentukan gas ini dapat memperburuk kembung dan/atau penggelembungan perut dan berakibat pada jumlah-jumlah dari kentut yang meningkat dan diare.

Saluran pencernaan mempunyai hanya sedikit cara-cara merespon pada penyakit-penyakit. Oleh karenanya, gejala-gejala seringkali adalah serupa tidak perduli apakah penyakit-penyakitnya adalah fungsional atau bukan fungsional. Jadi, gejala-gejala dari keduanya penyakit-penyakit pencernaan fungsional dan non-fungsional adalah mual, muntah, kembung, penggelembungan perut, diare, sembelit, dan nyeri. Untuk sebab ini, ketika penyakit fungsional sedang dipertimbangkan sebagai suatu penyebab dari gejala-gejala, adalah penting bahwa kehadiran dari penyakit non-fungsional dikeluarkan (ditiadakan). Nyatanya, pengeluaran dari penyakit-penyakit non-fungsional biasanay adalah lebih penting dalam mengevaluasi pasien-pasien yang dicurigai mempunyai penyakit fungsional. Ini adalah begini, pada bagian yang besar, karena tes-tes untuk mendianosis penyakit fungsional adalah kompleks, tidak tersedia secara siap, dan seringkali sangat tidak dapat dipercayai. Berlawanan dengannya, tes-tes untuk mendiagnosis penyakit-penyakit non-fungsional adalah tersedia secara luas dan sensitif (mampu untuk mendiagnosis kebanyakan kasus-kasus).

Komplikasi-komplikasi IBS

Komplikasi-komplikasi dari penyakit-penyakit fungsional dari saluran pencernaan secara relatif terbatas. Karena gejala-gejala paling sering diprovokasi oleh makan, pasien-pasien yang merubah diet-diet mereka dan mengurangi pemasukan kalori-kalori mereka mungkin kehilangan berat badan. Untungnya, kehilangan berat badan adalah tidak umum pada penyakit-penyakit fungsional, dan ia harus menyarankan kehadiran dari suatu penyakit non-fungsional. Gejala-gejala yang membangunkan pasien-pasien dari tidur juga adalah lebih mungkin disebabkan oleh penyakit-penyakit non-fungsional daripada fungsional.

Paling umum, penyaskit-penyakit fungsional mengganggu kenyamanan pasien dan aktivitas-aktivitas harian mereka. Contohnya, pasien-pasien yang menderita dari diare pagi hari mungkin tidak meninggalkan rumah sampai diarenya berhenti. Jika diarenya menetap, mereka mungkin pergi hanya ketempat-tempat dimana mereka tahu bahwa suatu toilet tersedia secara siap. Pasien-pasien yang mengembangkan nyeri setelah makan mungkin melompati (tidak makan) makan siang. Sangat umum, pasien-pasien menghubungkan gejala-gejala dengan makanan-makanan spesifik, seperti susu, lemak, sayur-sayuran, dan lain-lain. Apakah hubungan-hubungan ini adalah nyata atau tidak, pasien-pasien ini akan membatasi diet-diet mereka sesuai dengan itu. Susu adalah makanan yang paling umum dihilangkan, seringkali secara tidak perlu dan pada kerugian dari pemasukan kalsium yang cukup. Gangguan dengan aktivitas-aktivitas harian juga dapat menjurus pada persoalan-persoalan dengan hubungan-hubungan antar ribadi, terutama dengan pasangan-pasangan (suami-istri). Bagaimanapun, kebanyakan pasien-pasien dengan penyakit fungsional cenderung untuk hidup dengan gejala-gejala mereka dan dengan jarang mengunjungi dokter-dokter untuk diagnosis dan perawatan.

Mendiagnosis IBS

The Rome II Criteria

Gejala-gejala dari IBS adalah beragam dan tidak konsisten diantara pasien-pasien. Lebih dari itu, tidak ada tes-tes abnormal yang secara karakteristik dapat digunakan untu mendiagnosis IBS. Semua ini telah membuatnya menjadi sulit untuk menetapkan IBS dan mengidentifikasi pasien-pasien, terutama untuk studi-studi penelitian. Pada tahun 1999, suatu grup dari penyelidik-penyelidik internasional bertemu di Rome untuk kedua kalinya (Rome II). Disana, mereka mengembangkan suatu set dari kriteria untuk gejala-gejala yang digunakan untuk mendiagnosis IBS.

Kriteria Rome II menyatakan bahwa dalam rangka untuk terdiagnosis dengan IBS, seorang pasien harus telah menderita nyeri perut atau ketidaknyamanan untuk 12 minggu atau lebih (tidak perlu harus minggu yang berurutan) dalam 12 bulan sebelumnya. Nyeri atau ketidaknyamanan harus mempunyai dua dari tiga ciri-ciri berikut:

* Pembebasan dengan pembuangan air besar
* Serangan yang berhubungan dengan suatu perubahan dalam frekwensi feces
* Serangan yang berhubungan dengan suatu perubahan dalam bentuk dari feces

Gejala-gejala lain yang tidak penting, namun mendukung suatu diagnosis dari IBS, adalah: (1) frekwensi abnormal dari feces-feces (lebih dari 3/per hari atau kurang dari 3/per minggu); (2) bentuk feces yang abnormal (bergumpal-gumpal dan keras, atau lepas dan berair); (3) pengeluaran feces yang abnormal (ngeden, kebelet, atau perasaan-perasaan belum bersih buang air besarnya); (4) pengeluaran lendir; dan (5) kembung (merasakan penggelembungan perut, atau pembesaran).

Kriteria Rome II adalah agak spesifik untuk suatu diagnosis dari IBS. Pada intinya, mereka memerlukan kehadiran dari nyeri perut berkepanjangan atau ketidaknyamanan yang pada beberapa cara berhubungan dengan suatu perubahan dalam pola pembuangan air besar. Gejala-gejala dari dyspepsia (mual atau ketidaknyamanan perut setelah makan-makan), penggelembungan perut, dan kentut yang meningkat sendirian tidak jatuh didalam definisi ini. Meskipun demikian, banyak pasien-pasien mempunyai gejala-gejala ini bersama-sama dengan gejala-gejala dari IBS. Adalah tidak jelas apakah pasien-pasien ini mempunyai satu persoalan (IBS) atau lebih dari satu persoalan.

Eksklusi (Pengeluaran) dari Penyakit Pencernaan Non-Fungsional

Seperti disebutkan sebelumnya, pengeluaran (peniadaan) dari penyakit non-fungsional pada pasien-pasien dengan IBS yang dicurigai adalah suatu pertimbangan yang penting. Ada banyak tes-tes untuk mengeluarkan penyakit-penyakit non-fungsional. Persoalan utama, bagaimanapun, adalah untuk memutuskan tes-tes yang mana adalah layak untuk dilaksanakan. Karena setiap kasus adalah individual (pribadi), tes-tes yang berbeda mungkin adalah layak untuk pasien-pasien yang berbeda. Meskipun demikian, ada beberapa tes-tes dasar yang seringkali dilaksanakan untuk mengeluarkan penyakit pencernaan non-fungsional. Tes-tes ini mengidentifikasi penyakit-penyakit anatomik (struktural) dan histologik (mikroskopik) dari usus-usus. Seperti selalu, suatu sejarah yang mendetil dari pasien dan suatu pemeriksaan fisik seringkali akan menyarankan penyebab dari gejala-gejala. Screening tes-tes darah yang rutin seringkali dilaksanakan untuk mencari petunjuk-petunjuk pada penyait-penyakit yang tidak dicurigai. Pemeriksaan-pemeriksaan dari feces juga adalah suatu bagian dari evaluasi karena mereka mungkin mengungkap infeksi, tanda-tanda dari peradangan, atau darah dan mengarahkan pengujian diagnostik lebih lanjut. Pengujian feces yang sensitif (antigen/antibody) untuk Giardia lamblia akan menjadi layak karena infeksi parasitik ini adalah umum dan dapat menjadi akut atau kronis. Beberapa dokter-dokter melakukan pengujian darah untuk penyakit celiac (sprue), namun nilai dari melakukan ini adalah tidak jelas. Lebih dari itu, jika suatu EGD direncanakan, biopsi-biopsi dari usus dua belas jari (duodenum) biasanya akan membuat diagnosis dari penyakit celiac. Keduanya x-rays dan endoscopies dapat mengidentifikasi penyakit-penyakit anatomik. Hanya endoscopies, bagaimanapun, dapat mendiagnosis penyakit-penyakit histologik karena biopsi-biopsi dapat diambil sewaktu prosedurnya. Tes-tes x-ray termasuk:

* Esophagram dan video-fluoroscopic swallowing study untuk menguji kerongkongan
* Rentetan pencernaan bagian atas untuk menguji lambung dan duodenum
* Rentetan usus kecil untuk menguji usus kecil
* Barium enema untuk menguji usus besar dan terminal ileum.

Tes-tes endoskopi termasuk:

* Upper gastrointestinal endoscopy (esophago-gastro-duodenoscopy, atau EGD) untuk menguji kerongkongan, lambung, dan duodenum (usus dua belas jari)
* Colonoscopy untuk menguji usus besar (kolon) dan terminal ileum
* Endoscopy juga tersedia untuk menguji usus kecil, namun tipe dari endoskopi ini adalah kompleks, tidak tersedia secara luas, dan nilai yang tidak terbukti dalam IBS yang dicurigai.

Untuk pemeriksaan usus kecil, ada juga suatu kapsul yang mengandung suatu kamera kecil yang dapat ditelan. Ketika kapsul berjalan melalui usus-usus, ia mengirim gambar-gambar dari bagian dalam usus-usus ke suatu alat perekam eksternal untuk peninjauan ulang kemudian. Bagaimanapun, kapsul tidak tersedia secara luas dan nilainya pada IBS masih belum terbukti.

X-rays adalah lebih mudah untuk dilaksanakan dan adalah lebih murah daripada endoskopi-endoskopi. Ketrampilan yang diperlukan untuk melaksanakan x-rays, bagaimanapun, menjadi lebih jarang diantara ahli-ahli radiologi karena mereka melakukannya lebih jarang. Oleh karenanya, kwalitas dari x-rays seringkali tidak sebaik seperti biasanya. Seperti dicatat diatas, endoskopi-endoskopi mempunyai suatu keuntungan atas x-rays karena pada saat endoskopi-endoskopi, biopsi-biopsi dapat diambil untuk didiagnosis atau mengeluarkan penyakit-penyakit histologikal, sesuatu yang x-rays tidak dapat lakukan.

Eksklusi (Pengeluaran) dari Penyakit Non-Usus

Pasien-pasien dengan IBS yang dicurigai seringkali menjalani ultrasonography (US), computerized tomography (CT atau CAT scans), atau magnetic resonance imaging (MRI) perut. Tes-tes ini digunakan terutama untuk mendiagnosis penyakit-penyakit non-usus. (Meskipun tes-tes ini juga mungkin mendiagnosis penyakit-penyakit usus, nilai mereka untuk tujuan ini adalah terbatas. Seperti digambarkan diatas, X-ray dan endoscopy adalah tes-tes yang lebih baik.) Adalah juga penting untuk menyadari bahwa US, CT, dan MRI adalah tes-tes yang kuat dan akan mengungkap kelainan-kelainan yang tidak berhubungan dengan IBS. Contoh yang paling umum adalah penemuan dari batu-batu empedu yang pada kenyataannya seringkali tidak menyebabkan gejala-gejala. Penemuan ini dapat menyebabkan suatu persoakan jika batu-batu empedu diperkirakan adalah sumber dari gejala-gejala IBS. Persoalannya adalah bahwa pengangkatan secara operasi dari kantong empedu dengan batu-batu empedunya (cholecystectomy) tidak mungkin menghilangkan gejala-gejala dari IBS. (Cholecystectomy akan diharapkan menghilangkan hanya gejala-gejala karakteristik yang adakalanya dapat disebabkan oleh batu-batu empedu.) Tes-tes untuk mengeluarkan penyakit-penyakit non-usus mungkin adalah tepat pada situasi-situasi spesifik, meskipun dengan pasti tidak pada kebanyakan pasien-pasien.

Evaluasi Pengangkutan Usus

Jika fungsi abnormal dari otot-otot usus kecil dicurigai, tes-tes untuk mengevaluasi pengangkutan melaui usus kecil atau usus besar (studi-studi transit usus kecil dan besar) tersedia. Studi-studi ini dilakukan dengan salah satu dari senyawa-senyawa atau penanda-penanda radioaktif yang dapat terlihat pada x-rays dari perut. Adalah juga mungkin untuk memasukan kateter-kateter kedalam lambung dan usus kecil atau usus besar untuk menentukan apakah otot-otot dari organ-organ ini bekerja secara normal (studi-studi kemampuan bergerak antro-duodenal dan kolon). Akhirnya, sembelit yang disebabkan oleh kegagalan fungsi dari otot-otot dubur dapat didiagnosis dengan studi-studi kemampuan bergerak ano-rectal.

Penyakit-Penyakit Psikiatris

Kemungkinan dari penyakit psikiatris (psychosomatic) seringkali timbul pada pasien-pasien dengan IBS karena gejala-gejala seringkali adalah subyektif, dan tidak ada kelainan-kelainan obyektif dapat diidentifikasikan. Penyakit psikiatris mungkin merumitkan IBS, namun adalah tidak jelas apakah penyakit psikiatris menyebabkan IBS. Jika ada suatu kemungkinan penyakit psikiatris, suatu evaluasi psikiatrik adalah tepat.

Merawat IBS

Perawatan dari IBS adalah suatu topik yang sulit dan tidak memuaskan karena begitu sedikit obat-obat yang telah dipelajari atau telah ditunjukan efektif dalam merawat IBS. Lebih dari itu, obat-obat yang telah ditunjukan bermanfaat pada hakekatnya masih belum efektif. Situasi sulit ini ada untuk banyak sebab-sebab, seperti berikut:

* Penyakit-penyakit yang mengancam nyawa (contohnya, kanker, penyakit jantung, dan tekanan darah tinggi), adalah penyakit-penyakit yang menangkap perhatian publik dan, lebih penting, pembiayaan penelitian. IBS adalah bukan suatu penyakit yang mengancam nyawa dan telah menerima sedikit pembiayaan penelitian. Karena kekurangan penelitian, suatu pengertian dari proses-proses fisiologi (mekanisme-mekanisme) yang bertanggung jawab untuk IBS telah berkembang dengan perlahan. Obat-obat yang efektif tidak dapat dikembangkan sampai ada suatu pengertian dari mekanisme-mekanisme ini.

* Penelitian pada IBS adalah sulit. IBS ditentukan oleh gejala-gejala subyektif, (seperti nyeri), daripada tanda-tanda obyektif (contohnya, kehadiran dari suatu borok). Gejala-gejala subyektif adalah lebih tidak dapat dipercaya daripada tanda-tanda obyektif dalam mengidentifikasi kelompok-kelompok homogen dari pasien-pasien. Sebagai akibatnyha, kelompok-kelompok dari pasien-pasien dengan IBS yang sedang menjalani perawatan kemungkinan mengandung beberapa pasien-pasien yang tidak mempunyai IBS, dan ini mungkin secara negatif mempengaruhi hasil-hasil dari perawatan. Lebih dari itu, hasil-hasil dari perawatan harus dievaluasi atas dasar dari respon-respon subyektif (seperti perbaikan dari nyeri). Sebagai tambahan pada menjadi lebih tidak dapat dipercaya, respon-respon subyektif adalah lebih sulit untuk diukur daripada respon-respon obyektif (seperti penyembuhan dari suatu borok).

* Subtipe-subtipe yang berbeda dari IBS (contohnya, diarrhea-predominant, constipation-predominant, dll.) kemungkinan disebabkan oleh proses-proses fisiologi (mekanisme-mekanisme) yang berbeda. Adalah juga mungkin, bagaimanapun, bahwa subtipe yang sama mungkin disebabkan oleh beberapa mekanisme-mekanisme yang berbeda pada orang-orang yang berbeda. Apa yang lebih, obat apa saja kemungkinan mempengaruhi hanya satu mekanisme. Oleh karenanya, adalah tidak mungkin bahwa satu obat apa saja dapat menjadi efketif dalam semua-bahkan kebanyakan-pasien-pasien dengan IBS, bahkan pasien-pasien dengan gejala-gejala yang serupa. Keefektifan yang tidak konsisten ini membuat pengujian obat-obat menjadi sulit. Tentu saja, itu dapat secara mudah berakibat pada percobaan-percobaan obat yang menunjukan tidak ada kemanjuran ketika, faktanya, obat membantu suatu subkelompok dari pasien-pasien.

* Gejala-gejala subyektif adalah terutama cenderung akan merespon pada placebos (obat-obat tidak aktif, atau pil-pil gula). Faktanya, pada kebanyakan studi-studi, 20 sampai 40% dari pasien-pasien dengan IBS akan membaik jika mereka menerima obat-obat yang tidak aktif. Sekarang, semua percobaan-percobaan klinik dari obat-obt untuk IBS memerlukan suatu kelompok yang dirawat dengan placebo untuk perbandingan dengan kelompok yang dirawat dengan obat. Jadi, respon-respon placebo berarti bahwa percobaan-percobaan klinik ini harus menggunakan jumlah-jumlah yang besar dari pasien-pasien untuk mendeteksi perbedaan-perbedaan yang penuh arti (signifikan) dalam perbaikan antara kelompok-kelompok placebo dan obat. Oleh karenanya, percobaan-percobaan macam ini adalah mahal untuk dilaksanakan.

Kekurangan pengertian dari proses-proses (mekanisme-mekanisme) psikologi yang menyebabkan IBS telah berarti bahwa perawatan tidak dapat diarahkan pada mekanisme-mekanisme ini. Sebagai gantinya, perawatan biasanya diarahkan pada gejala-gejala, yang adalah terutama sembelit, diare, dan nyeri perut. Gejala-gejala ini adalah tidak eksklusif satu sama lain karena pasien-pasien mungkin mempunyai nyeri perut dengan sembelit atau diare. Lebih dari itu, periode-periode sembelit mungkin bergantian dengan periode-periode diare. Variasi dalam gejala-gejala melalui waktu dapat membuat perawatan dari gejala-gejala menjadi rumit. Obat-obat psikotropik (antidepressants) dan perawatan-perawatan psikologi (contohnya, cognitive behavioral therapy) merawat penyebab-penyebab hipotetis dari IBS (seperti fungsi abnormal dari syaraf-syaraf sensory dan jiwa) daripada gejala-gejala.

Sembelit

Sembelit disebabkan oleh pengangkutan (transit) yang lambat dari isi-isi usus melalui usus-usus, terutama usus besar. Transit yang lambat ini mungkin disebabkan oleh fungsi abnormal dari otot-otot seluruh usus besar atau hanya otot-otot dari dubur (anus) dan rectum.

Perawatan dari sembelit pada IBS biasanya dimulai dengan suatu percobaan dari suplemen-suplemen dan obat-obat yang digunakan untuk merawat sembelit dari penyebab apa saja. Pada tahun 2002, FDA menyetujui tegaserod (Zelnorm), obat pertama yang khas untuk perawatan dari nyeri perut dan sembelit pada wanita-wanita dengan IBS. Bagaimanapun, pada Maret tahun 2007, FDA meminta Novartis untuk menghentikan penjualan tegaserod (Zelnorm) di Amerika karena suatu analisa retrospektif dari data oleh Novartis dari lebih dari 18,000 pasien-pasien menunjukan suatu perbedaan yang sedikit dalam kejadian-kejadian dari peristiwa-peristiwa kardiovaskular (serangan-serangan jantung, stroke-stroke dan angina) diantara pasien-pasien pada Zelnorm dibandingkan dengan placebo. Data menunjukan bahwa kejadian-kejadian kardiovaskular terjadi pada 13 dari 11,614 pasien-pasien yang dirawat dengan Zelnorm (.11%), dibandingkan dengan satu kejadian kardiovaskular pda 7,031 (.01%) pasien-pasien yang dirawat dengan placebo. Bagaimanapun, adalah tidak jelas apakah Zelnorm benar-benar menyebabkan serangan-serangan jantung dan stroke-stroke. Dokter-dokter dan ilmuwan-ilmuwan akan meneliti data untuk menentukan keamanan jangka panjang dari Zelnorm.

Mekanisme dengan mana tegaserod mengurangi sembelit adalah menarik. Adalah kontraksi-kontraksi dari otot-otot usus yang mengontrol transit dari makanan yang dicerna melalui usus. Kontraksi-kontraksi yang lebih banyak mempercepat transit, kontraksi-kontraksi yang lebih sedikit memperlambat transit. Pada pasien-pasien dengan sembelit, kontraksi-kontraksi adalah lebih sedikit. Satu faktor penting dalam kontrol kontraksi-kontraksi adalah serotonin. Serotonin adalah suatu kimia yang dihasilkan oleh syaraf-syaraf didalam usus. Ia dilepaskan oleh syaraf-syaraf dan kemudian berjalan ke syaraf-syaraf lain dimana ia mengikat pada reseptor-reseptor pada syaraf-syaraf. Ia adalah, dalam istilah-istilah ilmiah, suatu "neurotransmitter" yang mengizinkan syaraf-syaraf untuk berkomunikasi satu sama lainnya. Ketika ia mengikat pada reseptor-reseptor pada syaraf-syaraf yang mengontrol kontraksi-kontraksi dari otot-otot usus, serotonin dapat memajukan atau mencegah kontraksi-kontraksi tergantung pada tipe dari reseptor yang dia ikat. Pengikatan pada beberapa tipe-tipe dari reseptor-reseptor menyebabkan kontraksi-kontraksi, dan pengikatan pada tipe-tipe lain dari reseptor-reseptor mencegah kontraksi-kontraksi. Serotonin reseptor 5-HT4 adalah suatu reseptor yang mencegah kontraksi-kontraksi ketika serotonin mengkat padanya. Tegaserod menghalangi reseptor 5-HT4, mencegah serotonin mengikat padanya, dan dengan demikian meningkatkan kontraksi-kontraksi dari otot-otot usus. Kontraksi-kontraksi yang meningkat mempercepat transit dari makanan yang dicerna. Sebagai tambahan, tegaserod mengurangi kepekaan dari syaraf-syaraf usus yang merasakan nyeri dan dapat dengan demikian mengurangi persepsi nyeri.

Pada suatu studi acak yang dikontrol placebo yang melibatkan lebih dari 1000 pasien-pasien (80% wanita) dengan IBS dengan keutamaan sembelit, tegaserod telah ditemukan lebih efektif daripada placebo dalam meningkatkan frekwensi feces-feces, menghilangkan nyeri perut dan ketidaknyamanan, dan mengurangi sensasi-sensasi kembung diantara wanita-wanita. Tidak ada jumlah yang cukup dari pria-pria dalam studi untuk menarik kesimpulan tentang keefektifan dari perawatan pada pria-pria. Efek-efek yang bermanfaat dari perawatan mulai selama minggu pertama perawatan dan dipertahankan diseluruh 12 minggu periode studi.

Diare adalah satu-satunya efek sampingan pada studi tegaserod. Diare biasanya terjadi pada awal selama perawatan dan menghilang secara cepat bahkan jika perawatan diteruskan. Tidak ada efek dari tegaserod pada jumlah-jumlah darah, tes-tes hati dan ginjal, electrocardiograms, tekanan darah, pulse, dan berat badan. Suatu obat yang serupa tegaserod, disebut cisapride atau Propulsid, yang juga memajukan kontraksi-kontraksi otot usus, ditarik dari pasar disebabkan oleh efek-efek yang jarang namun fatal secara potensial pada irama listrik jantung. Sejauh ini, telah tidak ada laporan-laporan dari gangguan-ganguan irama yang berhubungan pada tegaserod. Pasien-pasien dengan penyakit hati atau ginjal utama harus tidak mengkonsumsi tegaserod. Keamanan dari tegaserod pada janin atau bayi-bayi yang disusui masih belum dipelajari dan belum diketahui. Oleh karenanya, wanita-wanita yang hamil atau menyusui harus menghindari tegaserod.

Diare

Obat yang paling luas dipelajari untuk perawatan diare pada IBS adalah loperamide (Imodium). Loperamide nampaknya bekerja dengan menghalangi (memperlambat) kontraksi-kontraksi dari otot-otot usus kecil dan usus besar. Loperamide adalah kira-kira 30% lebih efektif daripada suatu placebo dalam memperbaiki gejala-gejala diantara pasien-pasien yang mempunyai diare sebagai manifes utama dari IBS mereka. Adalah tidak jelas apakah loperamide mengurangi nyeri perut. Loperamide dapat menjadi kuat dan ia sendirinya dapat menyebabkan sembelit. Oleh karenanya, dosis harus disesuaikan secara hati-hati dan dibedakan untuk setiap pasien. Alosetron (Lotronex) digunakan untuk merawat diare dan ketidaknyamanan perut yang terjadi pada wanita-wanita dengan IBS parah yang tidak merespon pada perawatan-perawatan sederhana lain.

Alosetron , seperti tegaserod, mempengaruhi reseptor-reseptor serotonin. Alosetron menghalangi reseptor 5-HT3, suatu reseptor yang menyebabkan kontraksi-kontraksi ketika serotonin mengikat padanya. Alosetron, dengan menghalangi reseptor-reseptor 5-HT3, mencegah serotonin dari pengikatan dan dengan demikian mencegah kontraksi-kontraksi.

Alosetron disetujui oleh FDA pada Februari tahun 2000, namun ditarik dari pasar pada Nopember tahun 2000, karena efek-efek sampingan pencernaan yang serius dan mengancam nyawa. Pada Juni tahun 2002, ia disetuji kembali oleh FDA untuk pemasaran namun dalam suatu cara yang terbatas sebagai bagian dari suatu obat dari program yang disponsor oleh perusahaan untuk mengendalikan risiko-risiko yang berhubungan dengan perawatan. Penggunaan dari alosetron diizinkan hanya diantara wanita-wanita dengan IBS parah dengan keutamaan diare yang telah gagal merespon pada perawatan konvensional untuk IBS.

Efek sampingan yang paling umum dengan alosetron adalah sembelit. Satu perempat sampai satu pertiga dari pasien-pasien mungkin mengembangkan efek sampingan ini, namun pada hanya 10% (10 dari setiap 100 pasien-pasien) akan memerlukan obat dihentikan untuk sementara atau permanen.

A rare side effect that has occurred with alosetron is severe intestinal inflammation caused by poor circulation of blood (ischemic colitis). This complication is life-threatening, may require surgery, and has even caused death in a small number of patients. Therefore, immediate medical attention should be sought if the signs of ischemic colitis (rectal bleeding or a sudden worsening of abdominal pain) occur.

Nyeri Perut

Obat-obat yang paling luas dipelajari untuk perawatan nyeri perut adalah suatu kelompok dari obat-obat yang disebut smooth-muscle relaxants.

Otot saluran pencernaan terdiri dari suatu tipe otot yang disebut smooth muscle. Berlawanan dengannya, otot-otot kerangka, seperti biceps, terdiri dari suatu tipe otot yang disebut striated muscle. Obat-obat smooth muscle relaxant mengurangi kekuatan kontraksi dari smooth muscles namun tidak mempengaruhi kontraksi otot-otot dari tipe lain. Mereka digunakan pada IBS dengan asumsi (tidak terbukti) bahwa kontraksi-kontraksi yang kuat atau berkepanjangan dari smooth muscles dalam usus - kejang-kejang - adalah penyebab dari nyeri pada IBS. Bahkan ada smooth muscle relaxants yang ditaruh dibawah lidah, seperti nitroglycerin untuk angina, sehingga mereka mungkin diserap secara cepat. Smooth muscle relaxants adalah kira-kira 20% lebih efektif daripada suatu placebo dalam mengurangi nyeri perut. Adalah tidak jelas apakah smooth muscle relaxants mempunyai suatu efek yang bermanfaat pada sembelit atau diare.

Smooth muscle relaxants yang umum digunakan adalah hyoscyamine (contoh, Levsin) dan methscopolamine (contoh, Pamine). Obat-obat lain menggabungkan smooth muscle relaxants dengan suatu obat penenang (contoh, Donnatal), namun tidak ada bukti bahwa tambahan dari obat-obat penenang menambah pada keefektifan dari perawatan.

Obat-Obat Psikotropik

Pasien-pasien dengan IBS seringkali ditemukan menderita depresi, namun adalah tidak jelas apakah depresi adalah penyebab dari IBS, akibat dari IBS, atau tidak berhubungan dengan IBS. Beberapa percobaan-percobaan telah menunjukan bahwa antidepressants adalah efektif pada IBS dalam menghilangkan nyeri perut dan, barangkali, diare. Antidepressants bekerja pada IBS, bagaimanapun, pada dosis yang relatif rendah yang mempunyai sedikit atau tidak mempunyai efek pada depresi. Oleh karenanya dipercaya, bahwa mereka bekerja tidak dengan melawan depresi, namun dalam cara-cara yang berbeda (melalui mekanisme-mekanisme yang berbeda). Contohnya, obat-obat ini telah ditunjukan menyesuaikan (modulasi) aktivitas dari syaraf-syaraf dan begitu juga mempunyai efek-efek analgesic (menghilkangkan nyeri). Obat-obat psikotropik yang umum digunakan termasuk tricyclic antidepressants, amitriptyline (Elavil), desipramine (Norpramine), dan trimipramine (Surmontil). Meskipun studi-studi membesarkan hati, masih belum jelas apakah kelompok-kelompok yang lebih baru dari antidepressants, serotonin-reuptake inhibitors, seperti fluoxetine (Prozac), sertraline (Zoloft), dan paroxetine (Paxil) adalah efektif.

Perawatan-Perawatan Psikologi

Perawatan-perawatan psikologi termasuk cognitive-behavioral therapy, hypnosis, psychodynamic atau interpersonal psychotherapy, dan manajemen relaksasi/stres. Mereka telah digunakan pada pasien-pasien dengan IBS yang secara psikologi tertekan sampai suatu titik dimana kwalitas hidup mereka terganggu. Sedikit studi-studi telah menunjukan bahwa perawatan-perawatan psikologi dapat mengurangi ketakutan dan gejala-gejala psikologi sebagai tambahan untuk mengurangi gejala-gejala IBS, terutama nyeri dan diare.

Diet

Adalah tidak jelas apakah diet mempunyai banyak efek pada gejala-gejala dari IBS. Meskipun demikian, pasien-pasien seringkali menghubungkan gejala-gejala mereka dengan makanan-makanan spesifik (seperti salads, lemak-lemak, dll.). Meskipun makanan-makanan spesifik mungkin memperburuk IBS, adalah jelas bahwa mereka bukanlah penyebab dari IBS. Respon placebo yang umum pada IBS juga mungkin menjelaskan perbaikan dari gejala-gejala pada beberapa orang-orang dengan menghilangkan makanan-makanan spesifik.

Serat makanan seringkali direkomendasikan untuk pasien-pasien dengan IBS. Serat kemungkinan adalah bermanfaat pada pasien-pasien IBS dengan sembelit, namun ia tidak mengurangi nyeri perut. Ketidaktoleranan Lactose (gula susu) seringkali dipersalahkan untuk IBS dengan keutamaan diare, namun ia tidak menyebabkan IBS. Karena mereka berdua adalah umum, ketidaktoleranan dan IBS mungkin hidup bersama. Pada situasi ini, membatasi lactose akan memperbaiki, namun tidak menghilangkan gaejala-gejala. Ketidaktoleranan Lactose ditentukan secara mudah dengan menguji efek dari lactose (pengujian napas hidrogen) atau mencoba suatu diet yang menghilangkan lactose secara tegas. Ketidaktoleranan pada gula-gula lain daripada lactose, terutama, fructose, sucrose, dan sorbitol, mungkin menyebabkan gejala-gejala yang menyerupai dari IBS atau memperburuk IBS. Adalah tidak mungkin, bagaimanapun, bahwa gula-gula ini menyebabkan IBS.

Hubungan Antara IBS Dan Pertumbuhan Berlebihan Bakteri Usus Kecil

IBS dan pertumbuhan berlebihan bakteri usus kecil [small intestinal bacterial overgrowth (SIBO)]

Ada suatu persamaan yang menyolok antara gejala-gejala dari IBS dan suatu kondisi yang dikenal sebagai pertumbuhan berlebihan bakteri usus kecil [small intestinal bacterial overgrowth (SIBO)].

Seluruh saluran pencernaan, termasuk usus kecil, secara normal mengandung bakteri-bakteri. Jumlah bakteri-bakteri adalah lebih besar di usus besar (paling sedikit 1,000,000,000 bakteri per ml cairan) dan jauh lebih rendah di usus kecil (kurang dari 10,000 bakteri per ml cairan). Lebih dari itu, tipe-tipe dari bakteri-bakteri didalam usus kecil adalah berbeda daripada tipe-tipe dari bakteri-bakteri didalam usus besar. SIBO merujuk pada suatu kondisi dimana jumlah-jumlah bakteri yang besarnya secara abnormal (paling sedikit 100,000 bakteri per ml cairan) hadir didalam usus kecil, dan tipe-tipe dari bakteri didalam usus kecil lebih menyerupai bakteri-bakteri dari usus besar daripada usus kecil.

Gejala-gejala dari SIBO termasuk gas yang berlebihan, kembung dan penggelembungan perut, diare, dan nyeri perut. Sejumlah kecil pasien-pasien dengan SIBO mempunyai sembelit yang kronis daripada diare. Ketika pertumbuhan yang terlalu cepat (overgrowth) adalah parah dan berkepanjangan, bakteri-bakteri mungkin mengganggu pencernaan dan/atau penyerapan dari makanan, dan kekurangan dari vitamin-vitamin dan mineral-mineral mungkin berkembang. Kehilangan berat badan juga mungkin terjadi. Gejala-gejala dari SIBO cenderung menjadi kronis; seorang pasien yang khas dengan SIBO dapat mempunyai gejala-gejala yang berfluktuasi dalam intensitasnya melalui waktu yang berbulan-bulan, bertahun-tahun, atau bahkan berdekade-dekade sebelum diagnosisnya dibuat.

Telah diteorikan bahwa SIBO mungkin bertanggung jawab untuk gejala-gejala pada paling sedikit beberapa pasien-pasien dengan IBS. Perkiraan-perkiraan menuju pada setinggi 50% dari pasien-pasien dengan IBS. Dukungan untuk teori SIBO dari IBS datang dari pengamatan bahwa banyak pasien-pasien dengan IBS ditemukan mempunyai suatu tes napas hidrogen yang abnormal, suatu tes yang digunakan untuk mendiagnosis SIBO. Sebagai tambahan, beberapa pasien-pasien dengan IBS mempunyai perbaikan dari gejala-gejala mereka setelah perawatan dengan antibiotik-antibiotik, perawatan utama untuk SIBO. Lebih dari itu, studi-studi kecil yang secara ilmiah kokoh telah menunjukan bahwa perawatan dengan probiotik-probiotik (bakteri-bakteri "baik") memperbaiki gejala-gejala dari IBS. Meskipun ada beberapa cara-cara dimana probtiotik-probiotik mungkin mempunyai efek bermanfaat mereka, satu cara adalah dengan mempengaruhi bakteri yang ada didalam usus kecil. Jika ini adalah sungguh-sungguh mekanisme dari tindakan, itu akan mendukung teori bahwa SIBO dalah suatu penyebab dari IBS. Meskipun demikian, masih belum ditentukan apakah ini adalah mekanisme dari tindakan dari probiotik-probiotik pada IBS.

Meskipun teori bahwa SIBO menyebabkan IBS adalah menggoda dan ada banyak informasi bersifat anekdot yang mendukungnya, studi-studi ilmiah yang dengan teliti yang diperlukan untuk membuktikan atau menyangkal teori baru saja dimulai. Meskipun demikian, banyak dokter-dokter telah memulai untuk merawat pasien-pasien dengan IBS untuk SIBO. Sebagai tambahan, suatu kekurangan dari studi-studi ilmiah dengan telitit yang menunjukan manfaat dari antibiotik-antibiotik dan probiotik-probiotik telah tidak menghentikan dokter-dokter menggunakan mereka untuk merawat pasien-pasien.

Perawatan dari IBS berdasarkan pada teori pertumbuhan yang terlalu cepat bakteri usus kecil.

Dua perawatan-perawatan yang paling umum untuk SIBO diantara pasien-pasien dengan IBS adalah antibiotik-antibiotik dan probiotik-probiotik oral. Probiotik-probiotik adalah bakteri-bakteri hidup yang jika dimakan oleh seorang individu, berakibat pada suatu manfaat kesehatan pada individu itu. Bakteri probiotik yang paling umum adalah lactobacilli (juga digunakan dalam produksi yoghurt) dan bifidobacteria, kedua darinya ditemukan dalam usus dari individu-individu yang normal. Ada banyak penjelasan-penjelasan untuk bagaimana probiotik-probiotik mungkin menguntungkan individu-individu; bagaimanapun, mekanisme tindakan yang menguntungkan masih belum diidentifikasikan secara jelas. Mungkin bahwa bakteri-bakteri probiotik mencegah bakteri-bakteri lain didalam usus yang mungkin menyebabkan gejala-gejala, atau mungkin bahwa bakteri-bakteri probiotik bertindak pada sistim imun usus dari tuan rumah untuk menekan peradangan.

Beberapa antibiotik-antibiotik secara sendiri atau dalam kombinasi dilaporkan sukses dalam merawat SIBO pada pasien-pasien dengan IBS. Sukses perawatan, jika diukur dengan perbaikan-perbaikan dalam gejala-gejala atau dengan normalisasi dari tes napas hidrogen, berkisar dari 40-70%. Jika satu antibiotik gagal, dokter-dokter mungkin menambah antibiotik lain atau menukar ke suatu antibiotik yang berbeda, namun dosis dari antibiotik, durasi (lamanya) perawatan, dan keperluan untuk memelihara perawatan untuk mencegah kekambuhan dari SIBO masih belum cukup dipelajari. Kebanyakan dokter-dokter menggunakan dosis-dosis standar dari antibiotik-antibiotik untuk satu sampai dua minggu. Probiotik-probiotik mungkin digunakan sendirian, dalam kombinasi dengan antibiotik-antibiotik, atau untuk pemeliharan yang berkepanjangan. Jika probiotik-probiotik digunakan, mungkin adalah terbaik untuk menggunakan satu dari beberapa probiotik-probiotik yang telah dipelajari dalam percobaan-percobaan medis dan telah menunjukan mempunyai efek-efek pada usus kecil, meskipun tidak perlu pada SIBO. Probiotik-probiotik yang umum dijual di toko-toko makanan kesehatan mungkin adalah tidak efektif. Lebih dari itu, mereka seringkali tidak mengandung bakteri-bakteri yang disebutkan atau bakteri-bakterinya mati. Berikut adalah beberapa opsi-opsi untuk perawatan:

* neomycin secara oral (mulut) untuk 10 hari. Satu pengamatan yang telah dibuat adalah bahwa neomycin menghapus bakteri-bakteri penghasil methane dan mengurangi sembelit.
* levofloxacin (Levaquin) atau ciprofloxacin (Cipro) untuk 7 hari
* metronidazole (Flagyl) untuk 7 hari
* levofloxacin (Levaquin) digabungkan dengan metronidazole (Flagyl) untuk 7 hari
* rifaximin (Xifaxan) untuk 7 hari. Rifaximin adalah suatu antibiotik yang unik yang tidak diserap dari usus, dan, oleh karenanya, bertindak hanya didalam usus. Karena sangat sedikit rifaximin diserap kedalam tubuh, ia mempunyai sedikit efek-efek sampingan yang penting. Dosis-dosis rifaximin yang lebih tinggi dari normal (1200 mg/hari untuk 7 hari) adalah lebih unggul dari dosis-dosis standar yang lebih rendah (400 atau 800 mg/hari) dalam menormalisasikan tes napas hidrogen pada pasien-pasien dengan SIBO dan IBS; bagaimanapun, masih belum diketahui apakah dosis yang lebih besar adalah lebih baik pada penekanan gejala-gejala.
* Probiotik-probiotik yang tersedia secara komersial seperti VSL#3 atau Flora-Q yang adalah campuran dari beberapa jenis-jenis bakteri yang berbeda telah digunakan untuk merawat pertumbuhan bakteri usus kecil yang terlalu cepat dan IBS, namun keefektifan mereka tidak diketahui. Bifidobacterium infantis 35624 adalah probiotik satu-satunya yang telah ditunjukan efektif untuk merawat pasien-pasien dengan IBS.

Perawatan dengan Antibiotik melawan Probiotik.

Tidak ada percobaan-percobaan dari perawatan yang membandingkan antibiotik-antibiotik dan probiotik-probiotik, bagaimanapun, antibiotik-antibiotik mempunyai kerugian-kerugian tertentu. Terutama, gejala-gejala cenderung untuk kambuh setelah perawatan dihentikan, dan tindakan-tindakan perawatan yang berkepanjangan atau yang diulang mungkin perlu pada beberapa pasien-pasien. Dokter-dokter segan meresepkan tindakan-tindakan dari antibiotik-antibiotik yang berkepanjangan atau yang berulang karena khwatir tentang efek-efek sampingan jangka panjang dari antibiotik-antibiotik dan kemunculan dari bakteri-bakteri yang resisten pada antibiotik-antibiotik. Dokter-dokter mempunyai lebih sedikit kekhwatiran tentang efek-efek sampingan jangka panjang atau kemunculan dari bakteri-bakteri yang resisten dengan probiotik-probiotik dan, oleh karenanya, adalah lebih suka meresepkan probiotik-probiotik secara berulang dan untuk periode-periode yang berkepanjangan. Satu opsi adalah untuk merawat awalnya dengan suatu tindakan yang singkat dari antibiotik-antibiotik dan kemudian jangka panjang dengan probiotik-probiotik. Studi-studi jangka panjang yang membandingkan anribiotik-antibiotik, probiotik-probiotik, dan kombinasi-kombinasi dari antibiotik-antibiotik dan probiotik-probiotik sangat diperlukan.

Pendekatan Yang Layak Pada IBS

Pendekatan awal pada perawatan atau pengujian IBS tergantung pada gejala-gejala pasien dan durasi mereka. Jika gejala-gejala secara jelas cocok dengan definisi untuk IBS dan telah hadir bertahun-tahun tanpa perubahan, maka ada lebih sedikit keperluan untuk pengujian yang ekstensif untuk mengeluarkan penyakit-penyakit usus dan bukan usus lainnya. Agaknya, perawatan yang diarahkan pada gejala-gejala spesifik, seperti didiskusikan sebelumnya, dapat mulai. Peran dari antibiotik-antibiotik dan atau probiotik-probiotik sekarang ini sedang diuji.

Pada sisi lain, jika gejala-gejala adalah dari penimbulan baru-baru ini (seperti minggu-minggu atau bulan-bulan), perburukan secara progresif, parah, atau berhubungan dengan tanda-tanda "peringatan", maka pengujian awal adalah tepat. Tanda-tanda peringatan termasuk kehilangan berat badan, terbangun waktu malam, perdarahan rectal, dan tanda-tanda peradangan, seperti demam atau kepekaan perut. Pengujian juga adalah tepat jika, sebagai tambahan pada gejala-gejala dari IBS, ada gejala-gejala menyolok yang lain yang bukan bagian dari IBS (contohnya, penggelembungan perut, kentut yang meningkat, atau muntah). Akhirnya, pengujian diberikan jika usaha-usaha pada perawatan gejala-gejala dari IBS tidak berhasil.

Jika ada gejala-gejala yang menyarankan penyakit-penyakit bukan IBS, tes-tes yang adalah spesifik untuk kondisi-kondisi ini harus dilakukan pertama-tama. Sebabnya adalah jika tes-tes lain ini menyingkapkan penyakit yang lain daripada IBS, mungkin adalah tidak perlu melakukan pengujian tambahan. Contoh-contoh dari gejala-gejala dan tes-tes yang mungkin termasuk:

* Muntah: endoskopi-endoskopi pencernaan bagian atas untuk mendiagnosis penyakit-penyakit peradangan atau penghalangan; dan studi-studi pengosongan lambung dan atau electrogastrography untuk mendiagnosis pengosongan lambung yang terganggu.
* Penggelembungan perut dengan atau tanpa peningkatan kentut: x-rays pencernaan bagian atas dan usus kecil untuk mendiagnosis penyakit-penyakit penghalangan; dan pengujian napas hidrogen untuk mendiagnosis SIBO.
* Sembelit tanpa nyeri: colonoscopy atau barium enema untuk mengeluarkan kanker usus besar; studi-studi penanda untuk mendiagnosis transit (pemindahan) usus besar yang lambat; dan studi-studi kemampuan bergerak ano-rectal untuk mendiagnosis kelainan-kelainan otot rectal

Untuk seorang pasien dengan gejala-gejala yang khas dari IBS yang memerlukan pengujian untuk mengeluarkan penyakit-penyakit lain, pengujian mungkin secara layak memasukan suatu panel screening standar dari tes-tes darah dan spesimen-spesimen feces untuk pengujian parasit-parasit, nanah, dan darah. Suatu x-ray sederhana dari perut mungkin dilakukan sewaktu suatu episode dari nyeri perut (untuk mencari halangan atau rintangan usus). Pengujian untuk ketidaktoleranan lactose atau suatu percobaan dari suatu diet yang bebas lactose secara tegas harus dilakukan. Colonoscopy (dan mungkin, esophago-gastro-duodenoscopy, atau EGD) akan menjadi tes berikutnya, mungkin dengan berkali-kali biopsi-biopsi dari usus besar (dan lambung dan duodenum jika EGD dilakukan). Akhirnya, x-rays usus kecil mungkin dilakukan.

Jika semua dari pengujian yang tepat diatas menyingkap tidak ada penyakit yang dapat menyebabkan gejala-gejala, tes-tes lain harus dipertimbangkan. Tes-tes ini termasuk pengujian napas hidrogen untuk mendiagnosis SIBO dan studi-studi kemampuan bergerak antro-duodenal dan usus besar untuk mendiagnosis kelainan-kelainan otot atau syaraf usus. Studi-studi ini mungkin harus dilakukan di pusat-pusat yang mempunyai pengalaman dan keahlian dalam mendiagnosis dan merawat penyakit-penyakit ini.

Masa Depan Untuk IBS

Masa depan dari IBS tergantung pada peningkatan pengetahuan kita dari proses-proses (mekanisme-mekanisme) yang menyebabkan IBS. Mendapatkan pengetahuan ini, pada gilirannya, tergantung pada pembiayaan penelitian. Karena kesulitan-kesulitan dalam melaksanakan penelitan pada IBS, pengetahuan ini tidak akan datang dalam waktu yang cepat. Sampai kita mempunyai suatu pengertian dari mekanisme-mekanisme dari IBS, perawatan-perawatan yang lebih baru akan didasarkan pada pengertian kita yang berkembang dari fungsi kontrol pencernaan yang normal, yang sedang berlanjut lebih cepat. Terutama, ada minat yang kuat dalam neurotransmitters usus, yang adalah kimia-kimia yang digunakan oleh syaraf-syaraf usus untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Interaksi-interaksi dari neurotransmitters ini bertanggung jawab untuk penyesuaian (modulasi) fungsi-fungsi dari usus-usus, seperti kontraksi dari otot-otot dan pengeluaran cairan dan lendir.

5-hydroxytriptamine (5-HT atau serotonin) adalah suatu neurotransmitter yang menstimulasi beberapa reseptor-reseptor yang berbeda pada syaraf-syaraf dalam usus, termasuk satu yang disebut reseptor 5-HT4. Stimulasi-stimulasi dari reseptor-reseptor ini oleh 5-HT meningkatkan kontraksi-kontraksi otot di usus besar. Suatu contoh dari suatu obat percobaan yang mempengaruhi neurotransmission usus adalah tegaserod. Obat ini meniru efek dari 5-HT pada reseptor 5-HT4. Jadi, karena ia meningkatkan kontraksi-kontraksi otot usus , tegaserod sedang diuji untuk keefektifannya dalam merawat IBS dengan keutamaan sembelit begitu juga sembelit pada umumnya.

Obat lain yang mempengaruhi neurotransmission adalah ondansetron. Obat ini menghalangi suatu reseptor yang berbeda, reseptor 5-HT3, dan dengan demikian mengurangi kontraksi-kontraksi usus besar. Jadi, ondansetron (Zofran) telah efektif dalam merawat IBS dengan keutamaan diare pada studi-studi awal. Ada obat-obat yang menstimulasi reseptor lain, reseptor 5-HT1. Contoh-contoh dari tipe obat ini adalah sumatriptan (Imitrex) dan buspirone. Obat-obat ini dipercayai mengurangi kemampuan reaksi (kepekaan) dari syaraf-syaraf sensory pada apa yang sedang terjadi didalam usus. Stimulator-stimulator reseptor 5-HT1, bagaimanapun, masih belum diuji untuk keefektifannya pada IBS. Akhirnya, pada studi-studi permulaan, fedotozine telah ditunjukan memperbaiki gejala-gejala fungsional pencernaan. Mekanisme dari tindakan dari fedotozine tidak diketahui, namun ia juga mungkin bertindak dengan mengurangi kepekaan dari syaraf-syaraf sensory.

Akhirnya, ada persoalan dari suatu hubungan antara IBS dan bakteri-bakteri usus. Melaui waktu beberapa tahun berikutnya, banyak informasi akan mengumpul pada hubungan yang potensial ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar