Selasa, 01 Maret 2011

Penyakit Hati Yang Diinduksi Oleh Obat (Drug-Induced Liver Disease)

Definisi Penyakit Hati Yang Diinduksi Oleh Obat (Drug-Induced Liver Disease)

Penyakit-penyakit hati yang diinduksi oleh obat adalah penyakit-penyakit dari hati yang disebabkan oleh obat-obat yang diresepkan oleh dokter, obat-obat bebas (over-the-counter), vitamin-vitamin, hormon-hormon, herba-herba, obat-obat terlarang, dan racun-racun lingkungan.

Definisi Hati

Hati adalah organ yang berlokasi pada bagian atas sisi kanan dari perut, kebanyakan dibelakang sangkar tulang rusuk. Hati seorang dewasa normalnya beratnya mendekati tiga pound dan mempunyai banyak fungsi-fungsi.

* Hati menghasilkan dan mengeluarkan (mengsekresi) empedu kedalam usus dimana empedu membantu pencernaan lemak makanan.
* Hati membantu membersihkan darah dengan merubah kimia-kimia yang secara potensial membahayakan kedalam kimia-kimia yang tidak membahayakan. Sumber-sumber dari kimia-kimia ini dapat dari luar tubuh (contohnya, obat-obat atau alkohol), atau dalam tubuh (contohnya, ammonia, yang dihasilkan dari penguraian protein-protein; atau bilirubin, yang dihasilkan dari penguraian hemoglobin).
* Hati mengeluarkan kimia-kimia dari darah (biasanya merubah mereka kedalam kimia-kimia yang tidak berbahaya) dan kemudian mengeluarkan mereka dengan empedu untuk eliminasi dalam feces (tinja), atau mengeluarkan mereka balik kedalam darah dimana mereka kemudian dikeluarkan oleh ginjal-ginjal dan dieliminasi di urin.
* Hati menghasilkan banyak senyawa-senyawa yang penting, terutama protein-protein yang perlu untuk kesehatan yang baik. Contohnya, ia menghasilkan albumin, blok bangunan protein dari tubuh, serta protein-protein yang menyebabkan darah untuk membeku dengan baik.

Ketika obat-obat melukai hati dan mengganggu fungsi normalnya, gejala-gejala, tanda-tanda, dan tes-tes darah abnormal dari penyakit hati berkembang. Kelainan-kelainan dari penyakit-penyakit hati yang diinduksi oleh obat adalah serupa dengan yang dari penyakit-penyakit hati yang disebabkan oleh agent-agent lain seperti virus-virus dan penyakit-penyakit imunologi. Contohnya, hepatitis yang diinduksi oleh obat (peradangan dari sel-sel hati) adalah serupa dengan hepatitis virus; mereka keduanya dapat menyebabkan peninggian-peninggian dari tingkat-tingkat darah dari aspartate amino transferase (AST) dan alanine aminotransferase (ALT) (enzim-enzim yang bocor dari hati yang luka dan kedalam darah) serta anorexia (kehilangan nafsu makan), kelelahan, dan mual. Cholestasis yang diinduksi oleh obat (menggangu aliran empedu yang disebabkan oleh luka pada saluran-saluran empedu) dapat meniru cholestasis dari penyakit autoimun hati (seperti, primary biliary cirrhosis atau PBC) dan dapat menjurus pada penigkatan-peningkatan tingkat-tingkat darah bilirubin (yang menyebabkan jaundice), alkaline phosphatase (enzim yang bocor dari saluran-saluran empedu yang luka), dan gatal.

Gejala-Gejala Penyakit Hati

Pasien-pasien dengan penyakit hati yang ringan mungkin mempunyai sedikit atau tidak mempunyai gejala-gejala atau tanda-tanda. Pasien-pasien dengan penyakit yang lebih serius mengembangkan gejala-gejala dan tanda-tanda yang mungkin adalah tidak spesifik atau spesifik.

Gejala-gejala tidak spesifik, yaitu, gejala-gejala yang tidak menyarankan bahwa hati adalah penyebabnya, termasuk:

* kelelahan,
* kelemahan,
* nyeri perut yang samar-samar, dan
* kehilangan nafsu makan.

Gejala-gejala dan tanda-tanda yang adalah spesifik untuk penyakit hati termasuk:

* menguningnya kulit (jaundice) yang disebabkan oleh akumulasi dari bilirubin dalam darah,
* gatal, dan
* mudah memar yang disebabkan oleh pengurangan produksi dari faktor-faktor pembeku darah oleh hati yang sakit.

Penyakit hati yang berat dan telah berlanjut dengan sirosis dapat menghasilkan gejala-gejala dan tanda-tanda yang berhubungan dengan sirosis; gejala-gejala ini termasuk:

* akumulasi cairan pada kaki-kaki (edema) dan perut (ascites),
* kebingungan mental atau koma,
* gagal ginjal,
* mudah terserang infeksi-infeksi bakteri, dan
* perdarahan pencernaan.

Bagaimana Obat-Obat Menyebabkan Penyakit Hati ?

Obat-obat dapat menyebabkan penyakit hati dalam beberapa cara-cara. Beberapa obat-obat secara langsung berbahaya untuk hati; yang lain-lain dirubah bentuknya oleh hati kedalam kimia-kimia yang dapat berbahaya pada hati secara langsung atau tidak langsung. Ini mungkin nampaknya aneh mengingat peran penting hati adalah merubah bentuk kimia-kimia beracun kedalam kimia-kimia tidak beracun, namun ini terjadi. Ada tiga tipe dari keracunan hati; keracunan yang tergantung dosis, idiosyncratic toxicity, dan alergi obat.

Obat-obat yang menyebabkan keracunan yang tergantung dosis dapat menyebabkan penyakit hati pada kebanyakan orang-orang jika cukup dari obat yang diminum. Contoh yang paling penting dari keracunan yang tergantung dosis adalah overdosis acetaminophen (Tylenol) (didiskusikan lebih lanjut di artikel ini).

Obat-obat yang menyebabkan idiosyncratic toxicity menyebabkan penyakit hanya pada sedikit dari pasein-pasien yang telah mewariskan gen-gen spesifik yang mengontrol perubahan bentuk kimia dari obat spesifik itu, menyebabkan akumulasi obat atau produk-produk dari perubahan mereka (metabolites) yang berbahaya pada hati. Idiosyncratic toxicities yang diwariskan ini biasanya jarang, dan tergantung pada obat, secara khas terjadi pada kurang dari 1 sampai 10 per 100,000 pasien-pasien yang meminum obat itu; bagaimanapun, dengan beberapa obat-obat kejadian keracunan adalah jauh lebih tinggi. Meskipun risiko mengembangkan penyakit hati idiosyncratic yang diinduksi obat adalah rendah, penyakit hati idiosyncratic adalah bentuk yang paling umum dari penyakit hati yang diinduksi obat karena puluhan juta dari pasien-pasien menggunakan obat-obat, dan banyak dari mereka menggunakan beberapa obat-obat.

Keracunan obat idiosyncratic sulit untuk dideteksi pada percobaan-percobaan klinik awal yang biasanya melibatkan, paling banyak, hanya beberapa ribu pasien-pasien. Idiosyncratic toxicity akan timbul hanya setelah jutaan pasien-pasien mulai menerima obat setelah obat disetujui oleh FDA.

Alergi obat juga mungkin menyebabkan penyakit hati, meskipun tidak umum. Pada alergi obat, hati dilukai oleh peradangan yang terjadi ketika sistim imun tubuh menyerang obat-obat dengan antibodi-antibodi dan sel-sel imum.

Tipe-Tipe Penyakit Hati Yang Disebabkan Oleh Obat-Obat

Obat-obat dan kimia-kimia dapat menyebabkan spektrum yang lebar dari luka-luka hati. Ini termasuk:

* Peninggian-peninggian yang ringan pada tingkat-tingkat darah dari enzim-enzim hati tanpa gejala-gejala atau tanda-tanda dari penyakit hati
* Hepatitis (peradangan dari sel-sel hati)
* Necrosis (kematian dari sel-sel hati) yang seringkali disebabkan oleh hepatitis yang lebih berat/parah
* Cholestasis (sekresi atau pengeluaran yang berkurang dan/atau aliran dari empedu)
* Steatosis (akumulasi lemak pada hati)
* Cirrhosis (luka parut yang berlanjut dari hati) sebagai akibat dari hepatitis kronis, cholestasis, atau fatty liver
* Mixed disease, contohnya keduanya hepatitis dan necrosis dari sel-sel hati, hepatitis dan akumulasi lemak, atau cholestasis dan hepatitis.
* Fulminant hepatitis dengan gagal hati yang berat dan mengancam nyawa
* Bekuan-Bekuan Darah pada vena-vena dari hati

Tingkat-Tingkat Darah Dari Enzim-Enzim Hati Yang Meninggi

Banyak obat-obat menyebabkan peninggian-peninggian yang ringan pada tingkat-tingkat darah dari enzim-enzim hati tanpa gejala-gejala atau tanda-tanda dari hepatitis. AST, ALT, dan alkaline phosphatase adalah enzim-enzim yang normalnya berada didalam sel-sel hati dan saluran-saluran empedu. Beberapa obat-obat dapat menyebabkan enzim-enzim ini bocor dari sel-sel dan kedalam darah, jadi meningkatkan tingkat-tingkat darah dari enzim-enzim. Contoh-contoh dari obat-obat yang lebih umum menyebabkan peninggian-peniggian dari enzim-enzim hati dalam darah termasuk statins (digunakan dalam merawat tingkat-tingkat darah kolesterol yang tinggi), beberapa antibiotik-antibiotik, beberapa antidepressants (digunakan dalam merawat depresi), dan beberapa obat-obat yang digunakan untuk merawat diabetes, tacrine (Cognex), aspirin, dan quinidine (Quinaglute, Quinidex).

Karena pasien-pasien ini secara khas tidak mengalami gejala-gejala atau tanda-tanda, peninggian-peninggian dari enzim-enzim hati biasanya ditemukan ketika tes-tes darah dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan fisik tahunan, sebagai screening sebelum operasi, atau sebagai bagian dari pengamatan periodik untuk keracunan obat. Seara khas, tingkat-tingkat abnormal ini akan menjadi normal segera setelah penghentian obat, dan biasanya tidak ada kerusakan hati jangka panjang. Dengan beberapa obat-obat, tingkat-tingkat yang rendah dari enzim-enzim hati yang abnormal adalah umum dan tidak tampak berhubungan dengan penyakit hati yang penting (berat atau progresif), dan pasien boleh meneruskan meminum obatnya.


Hepatitis Akut Dan Kronis

Obat-obat tertentu dapat menyebabkan hepatitis (peradangan dari sel-sel hati) akut dan kronis yang dapat menjurus pada necrosis (kematian) dari sel-sel. Hepatitis akut yang diinduksi obat ditentukan sebagai hepatitis yang berlangsung kurang dari 3 bulan, sementara hepatitis kronis berlangsung lebih lama dari 3 bulan. Hepatiis akut yang diinduksi obat adalah jauh lebih umum daripada hepatitis kronis yang diinduksi obat dengan suatu perbandingan dari 9:1.

Gejala-gejala khas dari hepatitis yang diinduksi obat termasuk:

* kehilangan nafsu makan,
* mual,
* demam,
* kelemahan,
* kecapaian, dan
* nyeri perut.

Pada kasus-kasus yang lebih serius, pasien-pasien dapat mengembangkan urin yang gelap warnanya, demam, tinja yang pucat warnanya, dan jaundice (penampakan kuning pada kulit dan bagian putih mata). Pasien-pasien dengan hepatitis biasanya mempunyai tingkat-tingkat darah yang tinggi dari AST, ALT, dan bilirubin. Keduanya hepatitis akut dan kronis secara khas menghilang setelah penghentian obat, namun adakalanya hepatitis akut dapat menjadi cukup berat/parah untuk menyebabkan gagal hati akut (lihat diskusi kemudian di artikel ini), dan hepatitis kronis dapat pada kejadian-kejadian yang jarang, menjurus pada kerusakan hati yang permanan dan sirosis.

Contoh-contoh dari obat-obat yang dapat menyebabkan hepatitis akut termasuk acetaminophen (Tylenol), phenytoin (Dilantin), aspirin, isoniazid (Nydrazid, Laniazid), diclofenac (Voltaren), dan amoxicillin/clavulanic acid (Augmentin).

Contoh-contoh dari obat-obat yang dapat menyebabkan hepatitis kronis termasuk minocycline (Minocin), nitrofurantoin (Furadantin, Macrodantin), phenytoin (Dilantin), propylthiouracil, fenofibrate (Tricor), dan methamphetamine ("ecstasy").

Gagal Hati Akut

Jarang, obat-obat menyebabkan gagal hati akut (fulminant hepatitis). Pasien-pasien ini sangat sakit dengan gejala-gejala hepatitis akut dan persoalan-persoalan tambahan dari kebingungan atau koma (encephalopathy) dan memar atau perdarahan (coagulopathy). Faktanya, sampai dengan 80% dari orang-orang dengan fulminant hepatitis meninggal dalam waktu hari-hari sampai minggu-minggu. Di Amerika, acetaminophen (Tylenol) adalah penyebab yang palng umum dari gagal hati akut.
Kolestasis (Cholestasis)

Cholestasis adalah kondisi dimana pengeluaran dan/atau aliran dari empedu dikurangi. Bilirubin dan asam empedu normalnya disekresikan (dikeluarkan) oleh hati kedalam empedu dan dieliminasi dari tubuh via usus, menumpuk dalam tubuh menjurus pada jaundice dan gatal. Obat-obat yang menyebabkan cholestasis secara khas mengganggu sekresi empedu dari sel-sel hati tanpa menyebabkan hepatitis atau necrosis (kematian) sel hati. Pasien-pasien dengan cholestasis yang diinduksi obat secara khas mempunyai tingkat-tingkat darah yang meninggi dari bilirubin namun mempunyai tingkat-tingkat AST dan ALT yang normal atau meninggi sedikit. Tingkat-tingkat darah alkaline phosphate (enzim yang dibuat saluran-saluran empedu) meningkat karena sel-sel dari saluran-saluran empedu juga terganggu fungsinya dan membocorkan enzim. Disamping gatal dan jaundice, pasien-pasien biasanya tidak sesakit pasien-pasien dengan hepatitis akut.

Contoh-contoh dari obat-obat yang telah dilaporkan menyebabkan cholestasis termasuk erythromycin (E-Mycin, Ilosone), chlorpromazine (Thorazine), sulfamethoxazole dan trimethoprim (Bactrim; Septra), amitriptyline (Elavil, Endep), carbamazepine (Tegretol), ampicillin (Omnipen; Polycillin; Principen), ampicillin/clavulanic acid (Augmentin), rifampin (Rifadin), estradiol (Estrace; Climara; Estraderm; Menostar), captopril (Capoten), pil-pil pencegah kehamilan (oral contraceptives), anabolic steroids, naproxen (Naprosyn), amiodarone (Cordarone), haloperidol (Haldol), imipramine (Tofranil), tetracycline (Achromycin), dan phenytoin (Dilantin).

Kebanyakan pasien-pasien dengan cholestasis yang diinduksi obat akan sembuh sepenuhnya dalam waktu berminggu-minggu setelah penghentian obat, namun pada beberapa pasien-pasien, jaundice, gatal, dan tes-tes hati abnormal dapat berlangsung berbulan-bulan setelah penghentian obat. Pasien sekali-kali dapat mengembangkan penyakit hati kronis dan gagal hati. Jaundice dan cholestasis yang diinduksi obat yang berlangsung lebih lama dari 3 bulan disebut cholestasis kronis.

Steatosis (fatty liver)

Penyebab-penyebab yang paling umum dari akumulasi lemak pada hati adalah alkoholisme dan non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) yang berhubungan dengan kegemukan dan diabetes. Obat-obat mungkin menyebabkan fatty liver dengan atau tanpa hepatitis yang berkaitan. Pasien-pasien dengan fatty liver yang diinduksi obat mempunyai hanya beberapa gejala-gejala, atau tidak ada. Mereka secara khas mempunyai peninggian-peninggian yang ringan sampai sedang pada tingkat-tingkat darah dari ALT dan AST, dan juga mungkin mengembangkan hati-hati yang membesar. Pada kasus-kasus yang berat/parah, fatty liver yang diinduksi obat dapat menjurus pada sirosis dan gagal hati.

Obat-obat yang dilaporkan menyebabkan fatty liver termasuk total parenteral nutrition, methotrexate (Rheumatrex), griseofulvin (Grifulvin V), tamoxifen (Nolvadex), steroids, valproate (Depakote), dan amiodarone (Cordarone).

Pada situasi-situasi tertentu, fatty liver sendiri dapat mengancam nyawa. Contohnya, Reye's syndrome adalah penyakit hati yang jarang yang dapat menyebabkan fatty liver, gagal hati, dan koma. Dipercayai terjadi pada anak-anak dan remaja-remaja dengan influensa ketika mereka diberikan aspirin. Contoh lain dari fatty liver yang serius disebabkan oleh dosis yang tinggi dari intravenous tetracycline atau amiodarone. Herba-herba tertentu (contohnya, herba china Jin Bu Huan, digunakan sebagai obat penenang dan pembebas nyeri) juga dapat menyebabkan fatty liver yang serius.
Sirosis

Penyakit-penyakit hati kronis seperti hepatitis, fatty liver, atau cholestasis dapat menjurus pada necrosis (kematian) dari sel-sel hati. Jaringan parut terbentuk sebagai bagian dari proses penyembuhan yang berhubungan dengan sel-sel hati yang mati, dan luka-luka parut yang berat dari hati dapat menjurus pada sirosis.

Contoh yang paling umum dari sirosis yang diinduksi obat adalah sirosis alkohol . Contoh-contoh dari obat-obat yang dapat menyebabkan penyakit-penyakit hati kronis dan sirosis termasuk methotrexate (Rheumatrex), amiodarone (Cordarone), dan methyldopa (Aldomet).

Thrombosis Vena Hepatik

Normalnya, darah dari usus-usus dikirim ke hati via vena portal, dan darah yang meninggalkan hati menuju ke jantung diangkut via vena-vena hepatik kedalam inferior vena cava (vena yang besar yang mengalir kedalam jantung). Obat-obat tertentu dapat menyebabkan terbentuknya bekuan-bekuan darah (thrombosis) pada vena-vena hepatik dan pada inferior vena cava. Thrombosis dari vena hepatik dan inferior vena cava dapat menjurus pada hati yang membesar, nyeri perut, penumpukan cairan pada perut (ascites), dan gagal hati. Sindrom ini disebut Budd Chiari syndrome. Obat-obat yang paling penting yang menyebabkan Budd-Chiari syndrome adalah pil-pil pencegah kehamilan atau birth control pills (oral contraceptives). Birth control pills juga dapat menyebabkan penyakit yang berkaitan yang disebut penyakit veno-occlusive dimana darah membeku hanya pada vena-vena hepatik yang paling kecil. Pyrrolizidine alkaloids yang ditemukan pada herba-herba tertentu (seperti, borage, comfrey) juga dapat menyebabkan penyakit veno-occlusive.
Mendiagnosa Penyakit Hati Yang Diinduksi Oleh Obat

Diagnosis dari penyakit-penyakit hati yang diinduksi obat seringkali adalah sulit. Pasien-pasien mungkin tidak mempunyai gejala-gejala dari penyakit hati atau mungkin mempunyai hanya gejala-gejala ringan yang tidak spesifik. Pasien-pasien mungkin mengkonsumsi banyak obat-obat, yang membuatnya sulit untuk mengidentifikasi obat yang menyerang. Pasien-pasien juga mungkin mempunyai penyebab-penyebab potensial lainnya dari penyakit-penyakit hati seperti non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) dan alkoholisme.

Diagnosis dari penyakit hati didasarkan pada gejala-gejala seorang pasien (seperti kehilangan nafsu makan, mual, lelah, gatal, dan urin yang berwarna gelap), penemuan-penemuan pada pemeriksaan fisik (seperti jaundice, hati yang membesar), dan tes-tes labor yang abnormal (seperti tingkat-tingkat darah dari enzim-enzim hati atau bilirubin dan waktu-waktu pembekuan darah). Jika seorang pasien mempunyai gejala-gejala, tanda-tanda, dan tes-tes hati yang abnormal, dokter-dokter kemudian mencoba memutuskan apakah obat-obat yang menyebabkan penyakit hati dengan:

1. Mencatat sejarah konsumsi alkohol dengan hati-hati untuk menyampingkan penyakit hati alkoholik.
2. Melakukan tes-tes darah untuk menyampingkan hepatitis virus B dan hepatitis C , dan untuk menyampingkan penyakit-penyakit hati kronis seperti autoimmune hepatitis dan primary biliary cirrhosis (PBC).
3. Melakukan ultrasound perut atau computerized tomography (CT) scan dari hati untuk menyampingkan penyakit kantong empedu dan tumor-tumor hati.
4. Mencatat sejarah pencernaan dengan hati-hati - terutama inisiasi (permulaan) baru-baru ini dari obat-obat yang umumnya dihubungkan dengan penyakit hati.


Perawatan Penyakit-Penyakit Hati Yang Diinduksi Oleh OBat

Perawatan yang paling penting untuk penyakit hati yang diinduksi obat adalah menghentikan obat yang menyebabkan penyakit hati. Pada kebanyakan pasien-pasien, tanda-tanda dan gejala-gejala dari penyakit hati akan menghilang dan tes-tes darah akan menjadi normal dan tidak akan ada kerusakan hati jangka panjang. Ada pengecualian-pengecualian, bagaimanapun. Contohnya, overdosis Tylenol dirawat dengan oral N-acetylcysteine untuk mencegah necrosis hati yang parah dan gagal hati. Transplantasi hati mungkin perlu untuk beberapa pasien-pasien dengan gagal hati akut. Beberapa obat-obat juga dapat menyebabkan kerusakan hati yang tidak dapat diubah lagi dan sirosis.
Contoh-Contoh Penting Dari Penyakt Hati Yang Diinduksi Oleh Obat
Acetaminophen (Tylenol)

Overdosis acetaminophen dapat merusak hati. Kemungkinan kerusakan serta keparahan dari kerusakan tergantung pada dosis acetaminophen yang dikonsumsi; lebih tinggi dosisnya, lebih mungkin akan ada kerusakan dan lebih mungkin bahwa kerusakan akan menjadi berat/parah. Reaksi pada acetaminophen adalah tergantung dosis dan dapat diprediksi (diramalkan); ia bukan idiosyncratic - ganjil pada individu. Luka hati dari overdosis acetaminophen adalah hal yang serius karena kerusakan dapat berat/parah dan berakibat pada gagal hati dan kematian. Faktanya, overdosis acetaminophen adalah penyebab yang memipin dari gagal hati yang akut (penimbulan yang cepat) di Amerika dan Inggris.

Untuk dewasa rata-rata yang sehat, dosis maksimum acetaminophen yang direkomendasi selama periode 24-jam adalah 4 gram (4000 mg) atau delapan tablet-tablet extra-strength. (setiap tablet extra-strength mengandung 500 mg, sementara setiap tablet regular strength mengandung 325 mg.) Diantara anak-anak, dosis acetaminophen ditentukan pada dasar dari berat badan dan umur setiap anak, secara eksplisit (dengan tegas) dinyatakan pada setiap sisipan kemasan. Jika petunjuk-petunjuk untuk kaum dewasa dan anak-anak ini dituruti, acetaminophen adalah aman dan pada dasarnya tidak membawa risiko luka hati. Seseorang yang meminum lebih dari dua minuman-minuman beralkohol per hari, bagaimanapun, harus tidak memakai lebih dari 2 gram (2000 mg) acetaminophen diatas 24 jam, seperti didiskusikan dibawah, karena alkohol membuat hati rentan pada kerusakan dari dosis-dosis acetaminophen yang lebih rendah.

Dosis tunggal dari 7 sampai 10 gram (7000 - 10,000 mg) acetaminophen (14 sampai 20 tablet-tablet extra-strength), dua kali dosis yang direkomendasikan, dapat menyebabkan luka hati pada rata-rata kaum dewasa yang sehat. Diantara anak-anak, dosis tunggal dari 140 mg/kg (berat badan) acetaminophen dapat berakibat pada luka hati. Meskipun demikian, 3 sampai 4 gram ((3000 to 4000 mg) yang dipakai pada dosis tunggal atau 4 sampai 6 gram (4000 to 6000 mg) diatas 24 jam telah dilaporkan menyebabkan luka hati yang berat pada beberapa orang-orang, adakalanya bahkan berakibat pada kematian. Nampaknya bahwa individu-individu tertentu, contohnya, mereka yang meminum alkohol secara teratur, adalah lebih cenderung daripada yang lain-lain untuk mengembangkan kerusakan hati yang diinduksi acetaminophen. Faktor-faktor lain yang meningkatkan risiko seseorang untuk kerusakan dari acetaminophen termasuk keadaan berpuasa, malnutrisi, dan pemasukan yang serentak dari beberapa obat-obat lain seperti phenytoin (Dilantin), phenobarbital, carbamazepine [(Tegretol) (obat-obat anti serangan kejang)] atau isoniazid [(Nydrazid, Laniazid) (obat anti-TB)].
Statins

Statins adalah obat-obat yang paling luas digunakan untuk menurunkan kolesterol "jahat" (LDL) dalam rangka mencegah serangan-serangan jantung dan stroke-stroke. Kebanyakan dokter-dokter percaya bahwa statins adalah aman untuk penggunaan jangka panjang, dan pembahayaan (luka) hati yang penting adalah jarang. Meskipun demikian, statins dapat melukai (membahayakan) hati. Persoalan paling umum yang berhubungan dengan hati yang disebabkan oleh statins adalah peninggian-peninggian yang ringan pada tingkat-tingkat darah dari enzim-enzim hati (ALT dan AST) tanpa gejala-gejala. Studi-studi klinik telah menemukan peninggian-peninggian pada 0.5% sampai 3% dari pasien-pasien yang mengkonsumsi statins. Kelainan-kelainanini biasanya membaik atau menghilang sepenuhnya atas penghentian statin atau pengurangan dosis. Tidak ada kerusakan hati yang permanen (menetap).

Pasien-pasien dengan kegemukan mempunyai kesempatan yang meningkat mengembangkan diabetes, non-alcoholic fatty liver disease (NFALD), dan tingkat-tingkat kolesterol darah yang meninggi. Pasien-pasien dengan fatty liver seringkali tidak mempunyai gejala-gejala, dan tes-tes abnormal ditemukan ketika pengujian darah rutin dilakukan. Studi-studi baru-baru ini telah menemukan bahwa statins dapat digunakan dengan aman untuk merawat kolesterol darah yang tinggi pada pasien-pasien yang telah mempunyai fatty liver dan tes-tes darah hati yang abnormalnya ringan ketika statin dimulai. Pada pasien-pasien ini, dokter-dokter mungkin memilih untuk menggunakan statins pada dosis-dosis yang rendah dan mengamati (memonitor) tingkat-tingkat enzim hati secara teratur selama perawatan.

Meskipun demikian, idiosyncratic liver toxicity yang mampu menyebabkan kerusakan hati yang parah (termasuk gagal hati yang menjurus pada transplantasi hati) telah dilaporkan dengan statins. Frekwensi dari penyakit hati yang parah yang disebabkan oleh satins kemungkinan berada pada batasan dari 1-2 per juta pemakai-pemakai. Sebagai tindakan pencegahan, FDA labeling information menasehati bahwa tes-tes darah enzim hati harus dilaksanakan sebelum dan 12 minggu setelah inisiasi (permulaan) dari statin atau peningkatan pada dosis, dan secara periodik setelahnya (contohnya, setiap enam bulan).
Nicotinic acid (Niacin)

Niacin, seperti statins, telah digunakan untuk merawat tingkat-tingkat kolesterol darah yang meninggi serta tingkat-tingkat triglyceride yang meninggi. Juga seperti statins, niacin dapat merusak hati. Ia dapat menyebabkan peninggian-peninggian ringan yang temporer (sementara) pada tingkat-tingkat darah dari AST dan ALT, jaundice, dan, pada kejadian-kejadian yang jarang, gagal hati. Keracunan hati dengan niacin adalah tergantung dosis; dosis-dosis yang beracun biasanya melebihi 2 grams per hari. Pasien-pasien dengan penyakit-penyakit hati yang telah ada sebelumnya dan mereka yang meminum alkohol secara teratur berada pada risiko yang lebih tinggi mengembangkan keracunan niacin. Sustained-release preparations dari niacin juga adalah lebih mungkin menyebabkan keracunan hati daripada immediate-release preparations.
Amiodarone (Cordarone)

Amiodarone (Cordarone) adalah obat yang penting yang digunakan untuk merawat irama jantung yang tidak teratur (aritmia) seperti atrial fibrillation dan ventricular tachycardia. Amiodarone dapat menyebabkan kerusakan hati yang berkisar dari kelainan-kelainan enzim hati darah yang ringan dan dapat diubah lagi, sampai ke gagal hati akut dan sirosis yang tidak dapat diubah lagi. Kelainan-kelainan tes-tes darah hati yang ringan adalah umum dan secara khas menghilang beminggu-minggu sampai berbulan-bulan setelah penghentian obat. Kerusakan hati yang serius terjadi pada kurang dari 1% dari pasien-pasien.

Amiodarone berbeda dari kebanyakan obat-obat lain karena jumlah yang substansial dari amiodarone disimpan didalam hati. Obat yang disimpan mampu menyebabkan fatty liver, hepatitis, dan, lebih penting, ia dapat terus menerus merusak hati lama setelah obat dihentikan. Kerusakan hati yang serius dapat menjurus pada gagal hati akut, sirosis, dan keperluan untuk transplantasi hati.
Methotrexate (Rheumatrex, Trexall)

Methotrexate (Rheumatrex, Trexall) telah digunakan untuk perawatan jangka panjang dari pasien-pasien dengan psoriasis yang parah, rheumatoid arthritis, psoriatic arthritis, dan beberapa pasien-pasien dengan penyakit Crohn. Methotrexate telah ditemukan sebagai penyebab dari sirosis hati pada cara yang tergantung dosis. Pasien-pasien dengan penyakit-penyakit hati yang telah ada sebelumnya, pasien-pasien yang kegemukan, dan mereka yang meminum alkohol secara teratur terutama berada pada risiko mengembangkan sirosis yang diinduksi methotrexate. Pada tahun-tahun baru-baru ini, dokter-dokter telah mengurangi secara substansial kerusakan hati methotrexate dengan menggunakan dosis rendah dari methotrexate (5-15 mg) yang diberikan sekali setiap minggu dan dengan pengamatan dengan hati-hati tes-tes darah hati selama terapi. Beberapa dokter-dokter juga melakukan biopsi-biopsi hati pada pasien-pasien tanpa gejala-gejala hati setelah dua tahun (atau setelah dosis kumulatif dari 4 gram methotrexate) untuk mencari sirosis hati awal.
Antibiotik-Antibiotik

Isoniazid (Nydrazid, Laniazid). Isoniazid telah digunakan berdekade-dekade untuk merawat tuberculosis yang tersembunyi (pasien-pasien dengan tes-tes kulit yang positif untuk tuberculosis, tanpa tanda-tanda atau gejala-gejala dari tuberculosis yang aktif). Kebanyakan pasien-pasien dengan penyakit hati yang diinduksi isoniazid hanya mengembangkan peninggian-peinggian yang ringan dan dapat diubah lagi pada tingkat-tingkat darah dari AST dan ALT tanpa gejala-gejala, namun kira-kira 1-2% dari pasien-pasien mengembangkan hepatitis yang diinduksi isoniazid. Risiko mengembangkan hepatitis isoniazid terjadi lebih umum pada pasien-pasien yang lebih tua daripada pasien-pasien yang lebih muda. Risiko dari penyakit hati yang serius adalah 0.3% pada dewasa-dewasa muda yang sehat, dan meningkat ke lebih dari 2% pada pasien-pasien yang lebih tua dari umur 50 tahun. Suatu perkiraan 5-10% dari pasien-pasien yang mengembangkan hepatitis berlanjut mengembangkan gagal hati dan memerlukan transplantasi hati. Risiko keracunan hati isoniazid meningkat dengan pemasukan alkohol teratur yang kronis, dan dengan penggunaan serentak dari obat-obat lain seperti Tylenol dan rifampin (Rifadin, Rimactane).

Gejala-gejala awal dari hepatitis isoniazid adalah kelelahan, nafsu makan yang buruk, mual, dan muntah. Jaundice mungkin kemudian mengikutinya. Kebanyakan pasien-pasien dengan hepatitis isoniazid sembuh sepenuhnya dan dengan segera setelah penghentian obat. Penyakit hati yang berat dan gagal hati kebanyakan terjadi pada pasien-pasien yang terus menerus memakai isoniazid setelah timbulnya hepatitis. Oleh karenanya, perawatan yang paling penting untuk keracunan hati isoniazid adalah pengenalan awal dari hepatitis dan penghentian isoniazid sebelum luka hati yang serius telah terjadi.

Nitrofurantoin. Nitrofurantoin adalah obat anti bakteri yang digunakan untuk merawat infeksi-infeksi saluran kencing yang disebabkan oleh banyak bakteri-bakteri gram-negative dan beberapa bakteri-bakteri gram-positive. Nitrofurantoin disetujui oleh FDA pada tahun 1953. Ada tiga bentuk dari nitrofurantoin yang tersedia: bentuk microcrystalline (Furadantin), bentuk macrocrystalline (Macrodantin), dan bentuk sustained release, macrocrystalline yang digunakan dua kali dalam satu hati (Macrobid).

Nitrofurantoin dapat menyebabkan penyakit hati akut dan kronis. Paling umum, nitrofurantoin menyebabkan peninggian-peninggian yang ringan dan dapat diubah lagi pada tingkat-tingkat darah dari enzim-enzim hati tanpa gejala-gejala. Pada kejadian-kejadian yang jarang, nitrofurantoin dapat menyebabkan hepatitis.

Gejala-gejala dari hepatitis nitrofurantoin termasuk:

* kelelahan,
* demam,
* sakit-sakit otot dan persendian,
* nafsu makan yang buruk,
* mual,
* kehilangan berat badan,
* muntah,
* jaundice, dan
* adakalanya gatal.

Beberapa pasien-pasien dengan hepatitis juga mempunyai ruam kulit, kelenjar-kelenjar limfa yang membesar, dan pneumonia (dengan gejala-gejala dari batuk dan sesak napas) yang diinduksi nitrofurantoin. Tes-tes darah biasanya menunjukan enzim-enzim hati dan bilirubin yang meninggi. Kesembuhan dari hepatitis dan gejala-gejala lain dari kulit, persendian, dan paru adalah biasanya cepat sekali obat dihentikan. Penyakit hati yang serius seperti gagal hati akut dan hepatitis kronis dengan sirosis kebanyakan terjadi pada pasien-pasien yang meneruskan obat meskipun mengembangkan hepatitis.

Augmentin. Augmentin adalah kombinasi dari amoxicillin dan clavulanic acid. Amoxicillin adalah antibiotik yang berhubungan dengan penicillin dan ampicillin. Ia efektif melawan banyak bakteri-bakteri seperti H. influenzae, N. gonorrhea, E. coli, Pneumococci, Streptococci, dan strains tertentu dari Staphylococci . Tambahan dari clavulanic acid pada amoxicillin pada Augmentin memperkuat keefektifan dari amoxicillin melawan banyak bakteri-bakteri lain yang adalah biasanya resisten pada amoxicillin.

Augmentin telah dilaporkan menyebabkan cholestasis dengan atau tanpa hepatitis. Cholestasis yang diinduksi augmentin adalah jarang; kira-kira 150 kasus-kasus dari penyakit hati yang berhubungan dengan Augmentin telah dilaporkan. Gejala-gejala dari cholestasis (jaundice, mual, gatal) biasanya terjadi 1-6 minggu setelah memulai Augmentin, namun timbulnya penyakit hati dapat terjadi berminggu-minggu setelah penghentian Augmentin. Kebanyakan pasien-pasien sembuh sepenuhnya dalam minggu-minggu sampai bulan-bulan setelah penghentian obat, namun kasus-kasus yang jarang dari gagal hati, sirosis, dan transplantasi hati telah dilaporkan.

Antibiotik-antibiotik lain telah dilaporkan menyebabkan penyakit hati. Beberapa contoh-contoh termasuk minocycline (antibiotik yang berubungan dengan tetracycline), dan Cotrimoxazole (kombinasi dari sulfamethoxazole dan trimethoprim).
Nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAIDs)

Obat-obat antiperadangan nonsteroid atau nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAIDs) umumnya diresepkan untuk peradangan tulang dan yang berhubungan dengan sendi seperti arthritis, tendinitis dan bursitis. Contoh-contoh dari NSAIDs termasuk aspirin, indomethacin (Indocin), ibuprofen (Motrin), naproxen (Naprosyn), piroxicam (Feldene), dan nabumetone (Relafen). Kira-kira 33 juta orang-orang Amerika memakai NSAIDs secara teratur !

NSAIDs adalah aman ketika digunakan secara tepat dan seperti yang diresepkan oleh dokter-dokter; bagaimanapun, pasien-pasien dengan sirosis dan penyakit hati yang telah lanjut harus menghindari NSAIDs karena mereka dapat memperburuk fungsi hati (serta menyebabkan gagal hati).

Penyakit hati yang serius (seperti hepatitis) dari NSAIDs, terjadi dengan jarang (pada kira-kira 1-10 pasien-pasien per 100,000 yang menggunakan oba-obat). Diclofenac (Voltaren) adalah contoh dari NSAID yang telah dilaporkan menyebakan sedikit lebih sering hepatitis, pada kira-kira 1-5 per 100,000 pemakai-pemakai obat. Hepatitis biasanya menghilang sepenuhnya setelah penghentian obat. Gagal hati akut dan penyakit hati kronis, sepert sirosis, telah jarang dilaporkan.
Tacrine (Cognex)

Tacrine (Cognex) adalah obat oral yang digunakan untuk merawat penyakit Alzheimer. FDA menyetujui tacrine pada tahun 1993. Tacrine telah dilaporkan menyebabkan peninggian-peninggian yang abnormal pada enzim-enzim hati darah umumnya. Pasien-pasien mungkin melaporkan mual, namun hepatitis dan penyakit hati yang serius adalah jarang. Tes-tes abnormal biasanya menjadi normal setelah tacrine dihentikan.
Disulfiram (Antabuse)

Disulfiram (Antabuse) adalah obat yang adakalanya diresepkan untuk merawat alkoholisme. Ia menghilangkan semangat meminum dengan menyebabkan mual, muntah, dan reaksi-reaksi fisik lain yang tidak menyenangkan ketika alkohol diminum. Disulfiram telah dilaporkan menyebabkan hepatitis akut. Pada kasus-kasus yang jarang, hepatitis yang diinduksi disulfiram dapat menjurus pada gagal hati akut dan transplantasi hati.
Vitamin-Vitamin Dan Herba-Herba

Pemasukan vitamin A yang berlebihan, yang dimasukan bertahun-tahun, dapat merusak hati. Diperkirakan bahwa lebih dari 30% dari populasi Amerika memakai suplemen-suplemen dari vitamin A, dan beberapa individu-individu memakai vitamin A pada dosis yang tinggi yang mungkin beracun untuk hati (lebih besar dari 10,000 units/ hari). Penyakit hati yang diinduksi vitamin A termasuk peningkatan yang ringan yang dapat diubah kembali dari enzim-enzim hati darah, hepatitis, hepatitis kronis dengan sirosis, dan gagal hati.

Gejala-gejala dari keracunan vitamin A mungkin termasuk nyeri-nyeri tulang dan otot, pewarnaan orange kulit, kelelahan, dan sakit kepala. Pada kasus-kasus yang berlanjut, pasien-pasien akan mengembangkan hati-hati dan limpa-limpa yang membesar, jaundice, dan ascites (penumpukan cairan yang abnormal di perut). Pasien-pasien yang adalah peminum alkohol yag berat dan mempunyai penyakit hati lain yang telah ada lebih dahulu berada pada risiko yang meningkat dari kerusakan hati dari vitamin A. Perbaikan secara berangsur-angsur pada penyakit hati biasanya terjadi setelah menghentikan vitamin A, namun kerusakan hati yang progresif dan gagal hati mungkin terjadi pada keracunan vitamin A yang berat dengan sirosis.

Keracunan hati juga telah dilaporkan dengan herbal teh. Contoh-contoh termasuk Ma Huang, Kava Kava, pyrrolizidine alkaloids in Comfrey, germander, dan chaparral leaf. Amanita phylloides adalah kimia racun hati yang ditemukan pada jamur-jamur yang beracun. Konsumsi tunggal dari jamur yang beracun dapat menjurus pada gagal hati akut dan kematian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar